Sampai Jumpa di Keabadian yang Lain
Hidup sering kali memberikan kejutan yang tidak lucu. Di saat saya sedang belajar untuk kembali percaya pada cinta, takdir justru menarik paksa kebahagiaan itu tanpa sempat saya ucapkan kata pisah. Ditinggal oleh dia yang tersayang untuk selamanya, adalah jenis luka tak berdarah yang sakitnya tak kira-kira.
Pertemuan dengannya terjadi pada perayaan tahun baru, tahun lalu. Sebuah awal yang indah, di mana rona bahagia kembali menghiasi hari-hari saya. Dia datang di saat saya baru saja selesai mengubur dalam-dalam rasa cinta, setelah kegagalan dengan seseorang di masa lalu saya. Dia adalah cahaya yang menyelinap masuk ke dalam ruangan gelap yang sudah lama saya kunci rapat. Dengannya, saya merasa hidup kembali, merasa bahwa mungkin Tuhan akhirnya luluh dan memberikan saya satu alasan untuk tetap tersenyum di tengah dunia yang melelahkan ini.
Namun, dunia kembali menunjukkan wajah aslinya yang keras. Dia pergi begitu saja. Tidak ada dialog yang menjadi tawa, tidak ada pelukan perpisahan yang lama. Yang tersisa hanya satu ungkapan terakhirnya yang terus terngiang di telinga: betapa ia sangat bahagia pernah memiliki saya sebagai pasangan hidupnya. Sebuah pengakuan cinta yang kini menjadi warisan paling berat yang harus saya genggam dengan erat.
Ternyata benar, kebahagiaan bisa lenyap secepat itu. Berat rasanya, sungguh berat, untuk dipaksa ikhlas melepaskan seseorang yang masih ingin kita peluk erat. Ada lubang besar di dada yang rasanya tidak akan pernah bisa ditutup oleh siapa pun jua. Saya dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa mungkin dia memang bukan pasangan yang ditakdirkan untuk menemani sisa hidup hingga tua, tapi dia adalah bagian dari perjalanan hidup yang memberikan warna paling indah.
Di antara lamunan dan tarian jemari yang mulai gemetar ini, saya mencoba berdamai dengan rasa kehilangan. Saya harus belajar melepasnya, membiarkannya pergi menuju pelukan Sang Pencipta. Meski raga kami tak lagi berada di dunia yang sama, kisahnya telah terpatri dalam ingatan terdalam. Ia datang untuk memberi bahagia, dan ia pergi dengan meninggalkan kebahagiaan yang sama.
Terima kasih karena pernah ada, meski hanya sekejap mata. Terima kasih telah menyembuhkan luka lama, meski akhirnya kamu meninggalkanku sendiri tanpa siapa. Aku melepasmu dengan ikhlas, meski hati ini belum benar-benar siap untuk kembali sepi.
Sampai jumpa di keabadian yang lain, di mana perpisahan tidak lagi punya kuasa atas kita.
BACA JUGA
Post a Comment