Cerpen Cak Kirun: Bandar Berseragam

Warung Mak Inun sore itu mendadak sepi saat Pak Komandan masuk dengan seragam lengkapnya. Ia duduk di kursi panjang, meletakkan topinya di meja, lalu memesan kopi hitam dengan suara yang sengaja dikeraskan. Di meja sebelah, Cak Kirun sedang asyik menyeruput kopi sambil mendengarkan Pak Komandan mengobrol dengan anak buahnya.

"Wilayah bawah sudah aman, Dan. Semua pemain kecil sudah kita angkut," lapor salah satu anak buahnya pelan.

Pak Komandan tersenyum puas sambil mengelus kumis tebalnya. "Bagus. Kalau semua pemain liar sudah bersih, harga pasar bisa kita kendalikan. Nggak boleh ada barang masuk tanpa lewat pintu kita. Pokoknya desa ini harus satu komando urusan stok."

Cak Kirun bangun dari kursinya, lalu pindah duduk ke meja Pak Komandan tanpa diminta. Ia langsung menyodorkan piring berisi pisang goreng yang masih panas.

"Hebat betul strategi bisnis Bapak ini. Polisi lain sibuk nangkap bandar, Bapak malah sibuk jadi bandarnya," celetuk Cak Kirun santai.

Pak Komandan tersedak kopinya. Ia menatap Cak Kirun dengan mata melotot. "Jaga bicaramu, Run! Kamu tahu apa soal kerjaan kami? Kami sedang melakukan pembersihan supaya peredarannya teratur!"

"Oalah, jadi maksudnya dibersihin itu biar nggak ada saingan ya, Pak?" sahut Cak Kirun sambil tertawa kecil. "Bapak ini persis seperti pengelola hutan yang hobinya nangkepin penebang pohon liar. Tapi anehnya, setelah semua penebang liar ditangkap, kayu di hutan itu malah Bapak jual sendiri ke kota pakai truk dinas."

Wajah Pak Komandan memerah, ia memukul meja dengan tangannya. "Kamu jangan sembarangan! Kami punya wewenang buat mengatur barang sitaan!"

Cak Kirun manggut-manggut menanggapi kemarahan itu. "Wewenang itu buat memusnahkan, Pak, bukan buat dipasarkan lagi lewat jalur belakang. Bapak bilang benci kemaksiatan, namun kantong Bapak makin tebal dari hasil jual barang yang katanya Bapak musnahkan. Kalau semua bandar ditangkap cuma supaya Bapak bisa jadi satu-satunya penjual di sini, itu namanya bukan penegak hukum, tapi pengusaha berseragam."

"Berhenti bicara atau saya borgol kamu sekarang!" ancam Pak Komandan dengan tangan yang sudah memegang pinggangnya.

Cak Kirun tetap tenang, ia menatap lurus ke mata Pak Komandan. "Borgol saja, Pak. Paling tidak di penjara saya nggak perlu lihat ada seragam yang dipakai buat dagang barang haram. Kasihan seragam itu, tugasnya buat lindungin rakyat, eh malah dijadiin kedok buat nutupin penjahat. Kalau bandar sudah pakai lencana, rakyat nggak lagi lapor ke kantor polisi buat minta tolong, kami malah lari karena takut Bapak lagi mau nawarin paket baru."

Pak Komandan cuma diam membeku, napasnya memburu tapi ia tidak berani bergerak karena warga di warung mulai menatapnya dengan pandangan curiga. Cak Kirun meletakkan uang kopinya, lalu melenggang pergi meninggalkan warung.
BACA JUGA