Cerpen Cak Kirun: Antara Loyalitas dan Lupa Identitas

Rumah duka Mbah Suro penuh sesak, namun suasananya terasa berat karena hal lain. Di halaman depan, dua kelompok pemuda berdiri terpisah. Satu kelompok memakai seragam "Laskar Langit" dan satunya lagi memakai jaket "Barisan Bumi". Bukannya membantu mengangkat kursi atau menyiapkan tenda, mereka malah sibuk berdebat soal posisi pemasangan bendera belasungkawa di depan pagar.

"Bendera kami harus di atas, karena Mbah Suro dulu pembina kehormatan kami!" seru salah satu anggota Laskar Langit.

"Nggak bisa! Kami yang sering bantu beliau kalau lagi sakit. Jadi bendera kami yang punya hak di posisi paling depan!" balas anggota Barisan Bumi dengan nada menantang.

Cak Kirun duduk di teras sambil memakai kemeja batik biasa dan sarung. Ia baru saja selesai membantu memandikan jenazah. Ia memperhatikan keributan itu sambil mengelap tangannya yang masih basah. Pelan-pelan, Cak Kirun berjalan ke arah kedua kelompok yang wajahnya sudah merah padam itu.

"Kalian ini semangat sekali ya mengurus kain bendera," celetuk Cak Kirun sambil berdiri di antara mereka.

Para pemuda itu menoleh. "Kita harus jaga kehormatan organisasi, Run! Masa lambang kita ditaruh di bawah atau di belakang?"

Cak Kirun mengangguk-angguk pelan. "Tadi di dalam saya ikut mengkafani Mbah Suro. Saya teliti setiap jengkal kain putihnya, tapi saya bingung. Kok saya nggak nemu logo 'Laskar Langit' atau stempel 'Barisan Bumi' di kain kafannya ya? Padahal katanya Mbah Suro itu milik kalian."

Kedua kelompok itu terdiam. Suasana mendadak canggung.

"Kalian merasa paling berjasa, namun saat jenazahnya mau diangkat ke keranda, kalian malah sibuk mengukur tinggi tiang bendera," lanjut Cak Kirun dengan suara rendah. "Loyalitas kalian itu ke organisasi atau ke manusianya? Sampeyan membela warna kain sampai mau ribut, tapi lupa kalau yang sedang meninggal ini tetangga kalian sendiri. Apa nanti di liang lahat, tanahnya bakal tanya dulu kartu anggota kalian sebelum mau menerima jasadnya?"

Seorang pemuda mencoba membela diri. "Tapi kita mau menunjukkan rasa hormat, Run!"

"Rasa hormat itu pakai tenaga buat bantu keluarga yang ditinggalkan, bukan pakai ego buat pamer lambang di depan rumah orang, apalagi sedang dalam duka," sahut Cak Kirun tegas. "Kalian ini cuma manusia yang kebetulan pakai seragam beda. Jangan sampai saking sibuknya jadi anggota, kalian lupa cara jadi tetangga. Bendera itu nggak akan menolong Mbah Suro di sana, tapi doa dan bantuan tulus kalian yang nggak pamer atribut itu yang lebih berharga."

Cak Kirun kembali ke dalam untuk mengambil keranda. Melihat itu, para pemuda tadi langsung terdiam. Satu per satu mereka melepas atribut organisasi, lalu bersama-sama mengangkat kursi dan membantu proses pemakaman tanpa meributkan lagi soal posisi bendera.

Cak Kirun tersenyum tipis saat melihat mereka akhirnya mau bahu-membahu. Ia menyadari kalau fanatisme sering membuat orang buta pada kenyataan sederhana, bahwa di depan kematian, semua label dan seragam yang dibanggakan manusia cuma akan berakhir jadi cerita yang nggak ada artinya.
BACA JUGA