Cita-Cita Mulia di Negeri Pesakitan
Banyak orang bilang, hidup adalah soal mencari aman. Di dunia kerja, keamanan itu sering kali berwujud angka di atas kertas slip gaji dengan nominal besar; cukup untuk membuat hidup terlihat mapan di mata tetangga kiri-kanan. Sebagai Software Engineer, saya pernah merasa ada di zona nyaman itu—pekerjaan yang menjanjikan kemapanan. Namun di sisi lain, jiwa saya merasa ada yang kurang; cita-cita lama yang terus mengetuk pintu batin saya. Ya, menjadi seorang akademisi di bidang Manajemen Teknologi Informasi.
Namun, bicara jujur soal realitas di negeri pesakitan ini, menjadi akademisi sering kali dianggap sebagai kerja pengabdian yang "kurang dihargai" secara finansial, apalagi jika dibandingkan dengan gemerlap gaji di pasar industri. Ironi yang sungguh menyesakkan: mereka yang mendidik generasi cerdas bangsa, justru sering kali mendapatkan upah yang jauh di bawah standar, dibandingkan dengan mereka yang hanya mengejar profit perusahaan. Realita yang tidak bisa dielakkan, dan saya pun tahu bahwa jika saya banting setir menjadi akademisi, dompet saya mungkin akan mengalami "diet ketat".
Mengejar beasiswa adalah langkah pertama yang akan saya lakukan. Saya tidak ingin melanjutkan studi hanya dengan modal nekat, untuk membuktikan bahwa saya mempunyai kapasitas intelektual yang cukup kuat. Akhirnya, pintu itu terbuka, saya mendapatkan kesempatan melanjutkan studi melalui jalur beasiswa—sebuah tiket emas yang sekaligus menjadi beban moral untuk memberikan sesuatu yang lebih besar bagi dunia pendidikan.
Dan pada akhirnya, keputusan besar saya ambil dengan penuh khidmat. Memilih jalan menyimpang dengan berhenti dari pekerjaan bergaji mapan. Gila? Mungkin iya, tapi, bagi saya ini adalah bentuk dari investasi jiwa.
Selama pendidikan, terkadang, saya merenung saat mengerjakan tugas riset yang menguras otak. Apakah keputusan ini tepat? Di sisi lain, teman sejawat saya mungkin sedang menikmati kenaikan jabatan dan bonus tahunan yang menggiurkan. Sedang, saya kembali menjadi mahasiswa yang berkutat dengan teori, metodologi, dan tumpukan jurnal ilmiah di bidang teknologi.
Namun, di negeri yang sakit ini—terkadang konten lebih dihargai daripada kompetensi, yang lebih memuja hasil instan daripada proses riset yang panjang—saya merasa pendidikan adalah satu-satunya obat yang tersisa. Saya sadar bahwa uang bisa dicari, tapi kesempatan untuk berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan tidak datang dua kali.
Memilih jalan ini bukan karena saya tidak butuh uang, tapi saya tidak ingin hidup hanya untuk menghitung angka milik orang. Saya ingin berbagi terus membagikan ilmu; membuktikan ke dunia, bahwa di negeri yang sakit ini, masih ada orang yang mau "rugi" demi memberikan kontribusi.
Ya, inilah tarian jemari saya hari ini—sebuah catatan tentang keberanian memilih jalan yang sepi. Mungkin jalan ini tidak bertabur uang, tapi saya yakin, kepuasan batin ini akan terpuaskan; melihat ilmu bermanfaat adalah kekayaan yang tidak akan pernah bisa didevaluasi oleh inflasi apa pun.
Inilah penghujung kisah, sampai jumpa di tarian jemari lainnya.
Post a Comment