Cerpen Cak Kirun: Barang Bukti Sang Pesulap

Aula kantor polisi itu penuh sesak. Di depan kamera wartawan, sebuah meja panjang sudah dipenuhi barang bukti yang mengkilap. Ada sebuah parang panjang dan beberapa plastik kecil isi serbuk putih. Slamet, pemuda desa yang dituduh pemilik barang itu, sudah meninggal dikubur pagi tadi setelah dikabarkan kaget saat diperiksa hingga jantungnya berhenti.

Cak Kirun masuk ke aula sambil membawa kantong plastik hitam. Ia berjalan santai menuju barisan depan, tepat saat komandan polisi sedang menjelaskan kronologi penangkapan Slamet yang katanya sangat berbahaya dan membawa senjata tajam.

"Hebat benar tim Bapak. Bisa nemu barang sebanyak ini dari Slamet yang pas ditangkap saja cuma pakai kaos oblong tipis begitu," celetuk Cak Kirun sambil menunjuk meja bukti.

Seorang petugas kumis tebal langsung melotot dan menggebrak meja, membuat mikrofon di depannya berdengung keras. "Kirun! Jaga bicaramu. Kami temukan semua ini pas penggeledahan di tempat kejadian sebelum dia meninggal!"

Cak Kirun manggut-manggut, lalu mengeluarkan sebungkus garam dapur dari plastiknya. Suasana aula mulai berisik oleh bisikan wartawan yang mulai mengarahkan kamera ke arah Kirun. "Saya cuma bingung, Pak. Tadi malam saya ikut warga pas Slamet ditangkap di depan warung. Waktu itu dia cuma bawa garam pesanan ibunya buat masak sop. Kok pas sampai sini, garamnya bisa sekolah tinggi dan berubah jadi bubuk putih narkoba begini? Apa di kantor ini ada jin penunggu yang bisa nyulap bumbu dapur dalam sekejap?"

"Kamu tahu apa soal prosedur! Bisa saja dia sembunyikan barang ini di tempat lain!" bentak petugas itu dengan wajah memerah, suaranya naik satu oktaf.

Beberapa petugas lain mulai mendekati Kirun, seolah ingin menyeretnya keluar. Cahaya lampu kilat kamera wartawan makin gila memotret keributan itu. Melihat situasi yang mulai tidak terkendali, Komandan polisi akhirnya angkat bicara untuk mendinginkan keadaan. "Harap tenang semua. Kirun, semua ini sudah sesuai laporan anggota di lapangan. Kami bekerja profesional meski ada insiden tak terduga di ruang pemeriksaan."

"Profesional atau sulapan, Pak?" sahut Cak Kirun santai. "Enaknya main sulap di kantor ini cuma satu: penontonnya dipaksa percaya, dan korbannya kan sudah meninggal jadi nggak mungkin bisa protes kalau parang atau bubuk itu bukan miliknya. Kalian butuh prestasi buat laporan bulanan, makanya kalian hajar orang paling lemah sampai meninggal, lalu kalian kasih bonus barang bukti di meja ini biar publik tepuk tangan."

Cak Kirun menatap foto Slamet yang dipajang sebagai tersangka dengan tatapan sedih. "Kalau mau pamer sulap ya di panggung saja, Pak, jangan di atas nyawa orang yang nggak punya kuasa buat melawan."

Aula itu mendadak sunyi senyap. Wartawan yang tadinya sibuk memotret mendadak berhenti. Cak Kirun mengambil kantong plastiknya dan bersiap pergi. "Ingat Pak, di dunia ini Bapak mungkin jago nyulap garam jadi narkoba buat jadi barang bukti. Namun besok di pengadilan Tuhan, kalian nggak bisa main sulapan begini."

Cak Kirun berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Di dalam aula, para petugas hanya bisa terdiam menatap barang bukti di meja yang tiba-tiba terasa seperti sampah tak berguna setelah disindir telak oleh logika sederhana seorang pemuda.
Memuat daftar chapter...