Cerpen Cak Kirun: Barang Bukti Sang Pesulap

Gedung komando itu nampak sibuk. Di atas meja panjang, tergelar "barang bukti" hasil tangkapan semalam: sebilah celurit berkarat dan sebungkus plastik berisi serbuk putih. Korbannya adalah pemuda desa bernama Slamet, yang sayangnya sudah "dipulangkan" ke liang lahat; katanya kaget saat diperiksa hingga jantungnya berhenti mendadak—meskipun di tubuhnya banyak ditemukan tanda perkenalannya dengan benda tumpul. 

Cak Kirun masuk ke ruangan itu dengan gaya santai, memikul keranjang berisi tepung terigu, micin, dan sebuah obeng kecil yang sudah tumpul. 

"Waduh, Pak Komandan! Hebat benar timnya! Ini kantor penegak hukum atau panggung sulap, ya?" tanya Cak Kirun sambil meletakkan keranjangnya di samping meja barang bukti. 

Seorang petugas senior dengan kumis tebal melotot. "Kirun! Jangan sembarangan. Ini bukti autentik! Bungkusan putih ini zat berbahaya yang kami temukan di saku Slamet!" 

Cak Kirun manggut-manggut, lalu mengambil sebungkus micin dari keranjangnya. "Oalah, Pak... Saya cuma heran. Kemarin sore saya lihat Slamet beli micin di warung buat ibunya bikin sayur sop. Kok pas sampai di kantor sini, micinnya bisa 'sekolah' tinggi dan berubah jadi zat berbahaya, ya? Apa di kantor ini ada jin penunggu yang bisa mengubah bumbu dapur jadi barang terlarang dalam sekejap?" 

"Jaga bicaramu! Kami temukan ini lewat prosedur penggeledahan yang sah!" bentak petugas itu. 

Cak Kirun tertawa renyah, tapi matanya menatap tajam ke arah celurit berkarat di meja. "Prosedur 'saku ajaib' ya, Pak? Di mana tangan petugas lebih cepat dari mata rakyat. Tidak ada apa-apa saat digeledah, pas korbannya tiada, dalam sekejab sakunya bisa mengeluarkan celurit sama serbuk ghaib. Bapak ini pinter benar. Kalau Slamet masih hidup, mungkin dia juga bakal kaget lihat sakunya bisa melahirkan barang-barang yang dia sendiri nggak pernah beli." 

Pak Komandan keluar dari ruangannya, mencoba menenangkan suasana. "Kirun, Slamet itu sudah meninggal. Takdir tidak ada yang tahu. Kami hanya menjalankan tugas." 

"Nah, itu dia masalahnya, Pak Komandan," sahut Cak Kirun sambil mendekat. "Enaknya jadi pesulap di sini itu satu: penontonnya nggak boleh protes, dan 'kelinci percobaan'-nya nggak bisa kasih testimoni karena sudah mati. Kalau Slamet sudah jadi mayat, dia nggak bisa bilang: 'Pak, itu celurit bukan punya saya', atau 'Pak, kenapa serbuk itu mendadak ada di saku saya?'." 

Cak Kirun mengambil obeng tumpul dari keranjangnya. "Ibaratnya begini, Pak. Bapak butuh 'pemenang' buat laporan prestasi bulan ini. Karena nggak ada penjahat yang ketemu, ya Bapak tunjuk saja orang paling lemah, Bapak kasih 'hadiah' barang bukti di sakunya, terus Bapak tanya-tanya sampai dia 'lelah' dan memutuskan buat mati saja daripada nanggung 'fitnah'." 

Suasana ruangan mendadak dingin. Cak Kirun menatap botol air mineral di meja. "Saran saya, Pak... Kalau mau main sulap barang bukti, jangan pakai nyawa orang buat taruhannya. Sebab, meskipun Slamet sudah nggak bisa bicara di pengadilan Bapak, besok di 'Pengadilan Atas', dia bakal bawa semua barang bukti palsu Bapak sebagai saksi. Dan di sana, nggak ada 'saku ajaib' yang bisa nyelamatin Bapak dari pertanyaan: 'Kenapa kamu bunuh dia?'." 

Cak Kirun memikul kembali keranjangnya dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Di ruangan itu, para petugas hanya bisa terdiam, melihat barang bukti di atas meja yang mendadak terasa lebih berat daripada beban dosa yang sedang mereka tumpuk padat.