Cerpen Cak Kirun: Maqom Tertinggi Ilmu Nyawit

Di pinggir hutan lindung Desa, sebuah tenda mewah berdiri. Di dalamnya, Pak Pejabat dan rombongan pengusaha sedang berpesta tumpeng. Mereka baru saja meneken surat izin untuk meratakan hutan itu dan menggantinya dengan ribuan batang sawit. 

Cak Kirun datang membawa sebuah botol kosong. Beliau menerobos kerumunan ajudan yang wangi parfumnya mengalahkan bau keringat rakyat yang lelah bekerja seharian. 

"Selamat, Pak! Selamat atas peresmian proyek Nyawit-nya!" seru Cak Kirun sambil menyalami Pak Pejabat yang tangannya halus karena jarang pegang cangkul. 

Pak Pejabat tersenyum sombong. "Terima kasih, Run. Ini demi ekonomi. Hutan ini kalau cuma isinya pohon-pohon tua begini kan nggak produktif. Kita ganti jadi sawit supaya lebih profit." 

Cak Kirun manggut-manggut mantap. "Betul, Pak. Memang benar kata orang desa, Bapak ini sudah sampai pada maqom tertinggi ilmu Nyawit (Nyawang Duwit). Kami ini orang bodoh, Pak. Kami masuk hutan cuma lihat pohon, lihat burung, sama lihat sumber air. Tapi Bapak hebat, Bapak masuk hutan yang dilihat langsung lembaran duit!" 

Wajah Pak Pejabat sedikit berubah, tapi Cak Kirun lanjut dengan nada lebih polos. 

"Warga desa itu heran, Pak. Kok bisa ya, hutan yang selama ini 'memberi' air penghidupan secara gratis, di mata Bapak dibilang 'tidak produktif'? Oh, ternyata setelah saya pikir-pikir, air itu memang nggak ada gunanya buat Bapak. Soalnya air itu nggak bisa difoto buat laporan anggaran, nggak bisa masuk ke daftar rekening koran, dan nggak bisa buat beli mobil baru buat gaya-gayaan," sindir Cak Kirun. 

Seorang pengusaha di samping Pak Pejabat menyahut, "Kirun, sawit ini nanti buat masa depan. Kita butuh minyak!" 

Cak Kirun tertawa kecil. "Masa depan siapa, Pak? Masa depan bapak-bapak ini atau masa depan anak cucu kami yang nanti harus beli air galonan gara-gara sumber airnya kering kerontang disedot lembaran duit kalian?" 

Cak Kirun lalu menyodorkan botol kosong yang dibawanya. "Ini Pak, saya mau minta tolong. Karena sebentar lagi hutan ini mau Bapak 'sawit'-kan, tolong botol ini diisi." 

"Isi apa? Minyak sawit?" tanya Pak Pejabat. 

"Bukan," jawab Cak Kirun tenang. "Tolong isi dengan udara segar dan suara burung berkicauan. Soalnya kalau sudah jadi sawit, udara di sini bakal panas, dan burung-burung itu bakal pindah tempat. Karena Bapak punya kemampuan Nyawit, pasti Bapak juga punya kemampuan yang kami butuhkan, Pak?" 

Pak Pejabat mulai gerah. "Kamu itu bicara apa toh, Run! Ini pembangunan!" 

"Oalah, jadi pembangunan itu artinya mengubah 'milik orang banyak' menjadi 'milik golongan sendiri' ya, Pak?" Cak Kirun menepuk jidatnya sendiri. "Hebat benar ilmu Nyawit ini. Kayu hutannya dijual, dapat uang. Lahannya ditanam sawit, jadi duit. Padahal yang punya hutan itu Tuhan yang diamanatkan untuk rakyat, tapi yang 'Nyawang Duwit'-nya kok cuma Bapak dan golongan?" 

Cak Kirun lalu berbisik, tapi suaranya terdengar sampai ke barisan belakang. 

"Ingat lho, Pak. Sawit itu akarnya kuat banget nyedot airnya. Sama kayak bapak-bapak ini, otaknya kuat banget nyedot anggaran. Tapi hati-hati, saking banyaknya yang disedot, jangan sampai nanti pas Bapak haus di akhirat, yang keluar dari keran bukan air, tapi minyak goreng mendidih hasil 'Nyawit' hutan kami." 

Cak Kirun meletakkan botol kosongnya di atas meja tumpeng, lalu melenggang pergi sambil bersiul. Para pejabat itu terdiam, mendadak selera makan tumpengnya hilang.