Cerpen Cak Kirun: Alat Pemantau Sunyi

Bulan Desember tiba, dan Kantor Urusan Pembangunan Desa (KUPD) mendadak seperti pasar malam. Truk-truk besar datang menurunkan kotak-kotak kayu berisi peralatan canggih. Pak Mantri, sang pejabat pengadaan, terlihat sangat sibuk mencocokkan kode barang dengan daftar di komputernya sambil senyum-senyum sendiri. 

Cak Kirun yang sedang mengantar surat, berhenti di depan sebuah benda tinggi menjulang di tengah taman kantor. Bentuknya seperti tiang listrik, tapi punya layar monitor dan sensor gerak, ditambah dengan antena yang meliuk-liuk ke langit dengan tegak. 

"Wah, Pak Mantri! Ini benda sakti apa lagi? Alat komunikasi sama alien ya?" tanya Cak Kirun sambil mengetuk-ngetuk tiang besi itu. 

Pak Mantri membetulkan kacamatanya dengan bangga. "Huss! Sembarangan kamu, Run. Ini namanya 'Smart Silence Monitoring System 4.0'. Alat canggih seharga dua miliar untuk memantau tingkat kesunyian di kantor desa!" 

Cak Kirun menggaruk kepalanya. "Memantau kesunyian? Memangnya kesunyian di sini sedang dalam keadaan darurat, Pak? Apa kalau di sini terlalu sunyi, nanti ada alarm bunyi supaya kita semua ribut sana-sini?" 

Pak Mantri mendekat dan berbisik, "Begini lho, Run... ini sudah bulan Desember. Anggaran kita masih sisa lima miliar. Kalau uang itu nggak habis bulan ini, tahun depan anggaran kita bakal dipotong pusat karena dianggap nggak becus kerja. Jadi, daripada uangnya balik ke negara, ya kita 'adakan' saja proyek yang diada-ada. Keren kan namanya?" 

Cak Kirun manggut-manggut, wajahnya dibuat seolah-olah sangat kagum. "Oalah, jadi ini bukan soal 'butuh barangnya', tapi soal 'butuh habis uangnya' ya, Pak? Hebat benar sampeyan, persis kayak orang yang sudah kenyang tapi dipaksa makan sepiring berlian, daripada berliannya diambil orang lain, mending Bapak telan, kan? Meskipun risikonya sangat tinggi." 

"Lho, ini kan buat modernisasi!" bantah Pak Mantri. "Layar ini nanti bakal nampilin grafik terkait waktu paling sunyi senyap dan waktu paling berisik hebat. Data ini sangat penting!" 

"Penting buat siapa, Pak?" sahut Cak Kirun renyah. "Warga desa itu butuhnya alat pompa air yang harganya cuma sepuluh juta, tapi bapak bilang 'nggak ada anggarannya'. Eh, giliran buat memantau sunyi yang nggak ada gunanya, Bapak keluarin dua miliar tanpa mikir panjang. Apa besok Bapak mau bikin proyek 'Pengadaan Kacamata untuk Melihat Masa Depan' juga? Biar anggarannya terserap seratus persen tanpa sisa?" 

Warga yang sedang mengurus berkas di KUPD mulai berkumpul dan ikut menertawakan tiang mahal tersebut. 

"Saran saya, Pak Mantri," lanjut Cak Kirun sambil menunjuk antena di atas tiang. "Antena ini jangan cuma buat pantau kesunyian. Pasang saja speaker besar, terus putar rekaman suara rakyat yang lagi teriak minta pembetulan jalan. Supaya alat mahal Bapak ini ada gunanya beneran, telingga Bapak nggak jadi 'sunyi' lagi dari kenyataan." 

Cak Kirun lalu mengambil selembar kertas sisa pembungkus tiang tersebut. "Daripada alat ini nganggur, mending layarnya dipakai buat nonton video tutorial cara bikin perencanaan yang bener, Pak. Kasihan uang negara, dicairkan susah-susah lewat pajak keringat rakyat, eh... pas sampai di sini malah cuma jadi pajangan yang tugasnya nungguin angin lewat." 

Cak Kirun melenggang pergi meninggalkan Pak Mantri yang mulai panik karena layar "Smart Silence"-nya tiba-tiba menunjukkan grafik merah—tanda bahwa suasana di situ sudah tidak sunyi lagi karena suara tawa warga yang kian pecah.