Cerpen Cak Kirun: Kuota Kata Mulut

Pagi itu, suasana di kantor redaksi "Warta Desa" yang biasanya riuh oleh suara mesin ketik dan diskusi panas, mendadak senyap seperti kuburan di tengah malam. Di depan pintu, Pak Kades berdiri dengan tangan bersedekap, didampingi dua petugas keamanan yang wajahnya lebih kaku daripada papan pengumuman. Di atas meja, tumpukan koran edisi terbaru yang memuat tulisan tentang "Misteri Aspal yang Menguap di Jalan Protokol" telah disita dan diikat rapi dengan tali rafia. 

Bambang, jurnalis muda yang menulis berita itu, hanya bisa menunduk lesu saat Pak Kades menunjuk-nunjuk wajahnya. Pak Kades berpidato panjang lebar tentang pentingnya menjaga "kerukunan" dan betapa berita kritis itu hanya akan merusak citra desa yang sedang berjuang mendapatkan penghargaan. Menurut Pak Kades, kebebasan berbicara itu ada batasnya, dan batasnya adalah ketika telinga Pak Kades mulai merasa gatal mendengarnya. 

Cak Kirun yang sedang lewat sambil membawa tumpukan koran bekas untuk bungkus kacang, berhenti sejenak di ambang pintu. Beliau mengamati pemandangan itu dengan mata yang berbinar tawa, lalu perlahan masuk ke ruangan sambil membawa sebuah botol lem kayu dan gulungan plester hitam yang sangat lebar. 

"Waduh, Pak Kades! Hebat benar idenya. Ini baru namanya manajemen udara yang bersih!" seru Cak Kirun sambil mulai menempelkan plester hitam itu ke mulut sebuah manekin di pojok ruangan. 

Pak Kades mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu, Run? Jangan mengacau, saya sedang memberikan pembinaan!" 

Cak Kirun tertawa renyah, lalu berpaling ke arah Bambang yang masih gemetaran. "Begini lho, Mbang. Kamu itu salah belajar ilmu komunikasi. Di zaman sekarang, jurnalis itu tugasnya bukan memotret jalan berlubang, tapi langit biru dengan gumpalan awan. Jangan lupa juga, Mbang! Bilang kalau lubang di jalan itu sebenarnya adalah 'estetika seni cekungan' yang sengaja dibuat pemerintah untuk melatih konsentrasi pengendara." 

Cak Kirun kemudian mengambil selembar koran yang disita, membukanya, lalu menutup semua tulisan kritis dengan plester hitam hingga terlihat seperti papan catur yang gagal. 

"Pak Kades benar," lanjut Cak Kirun dengan nada yang dibuat sangat serius. "Kalau berita buruk tidak ada, maka masalah otomatis hilang. Itulah hukum fisika baru, ya kan, Pak? Kalau kita nggak nulis soal aspal yang hilang, berarti aspalnya sebenarnya ada, cuma sedang melakukan 'kamuflase' supaya tidak dicuri orang. Dengan melarang Bambang menulis, Bapak sebenarnya sedang melakukan penghematan  energi rakyat supaya tidak perlu pusing mikir pemerintahan." 

Pak Kades mulai merasa ada yang salah dengan pujian Cak Kirun, tapi ia tetap mencoba bertahan. "Betul, Run! Kita butuh berita yang membangun!" 

"Nah!" Cak Kirun menjentikkan jarinya. "Saran saya, Pak, besok-besok jangan cuma korannya yang disita. Mulut warga juga dikasih kuota kata. Satu hari cuma boleh bilang 'Bagus', 'Hebat', dan 'Mantap'. Kalau ada warga yang nggak sengaja bilang 'Rusak' atau 'Lapar', langsung saja anggap mereka sedang makar." 

Cak Kirun lalu mendekati Pak Kades dan membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan. "Tapi ada satu masalah kecil, Pak. Bapak bisa menutup mulut Bambang, Bapak bisa membakar semua koran, bahkan Bapak bisa memplester telinga seluruh warga desa. Tapi Bapak nggak akan pernah bisa memplester kenyataan kalau jalanan di depan sana tetap bisa bikin orang celaka. Bapak bisa matiin lampu supaya nggak kelihatan di kegelapan, tapi jalanan rusak itu tetep ada di sana, nungguin Bapak terpeleset di dalamnya." 

Cak Kirun memungut satu gulung koran bekasnya, lalu melenggang pergi keluar sambil menyiulkan nada. Pak Kades terdiam di tempatnya, menatap plester hitam di tangan Cak Kirun yang tertinggal di meja, sementara Bambang perlahan mengangkat kepalanya. 

Di luar, suara angin berdesir, membawa pesan yang tidak bisa dibungkam: bahwa kebenaran itu seperti air, ia akan selalu menemukan celah untuk merembes keluar, seketat apa pun bendungan yang coba dibangun oleh ketakutan penguasa.