Cerpen Cak Kirun: Tarian Jempol Bayaran
Di sudut warung internet "Cyber Mak Nyak" yang remang-remang, Dedi "Viral" sedang sibuk menatap layar. Di depannya berjajar lima ponsel pintar yang kesemuanya terhubungan dengan colokan, tampak seperti pasien di ruang ICU digital. Jari-jemarinya menari lincah di atas layar, bergantian mengetik komentar di berbagai platform media sosial.
"Keren banget Pak Kades! Jembatan putus itu sebenarnya konsep 'Jembatan Minimalis Teoretis' untuk melatih kemandirian warga. Bravo! #DesaMaju #PemimpinCerdas," ketik Dedi sambil nyengir, membayangkan saldo dompet digitalnya yang akan segera bertambah dari bos penyewa jasanya.
Cak Kirun yang sedang menumpang nge-print surat undangan tahlilan, berdiri di belakang Dedi sambil memegang segelas es teh plastik. Beliau memperhatikan layar ponsel Dedi yang penuh dengan akun palsu bernama "Mawar Cantik", "Budi Setia", hingga "Rakyat Jelata_99".
"Wah, Mas Dedi ini sakti benar ya," celetuk Cak Kirun sambil menyeruput es tehnya. "Satu orang tapi nyawanya ada banyak, ya! Bisa jadi Mawar yang lembut, bisa jadi Budi yang tegas, sampai bisa jadi 'Rakyat Jelata' yang hobinya menjilat penguasa."
Dedi menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke layarnya. "Ini namanya Strategi Komunikasi Digital, Cak. Kita harus menyeimbangkan narasi. Kalau ada orang komplain jalan rusak, kita harus kasih tahu kalau itu adalah 'wisata off-road gratis' untuk membangun aura positif!"
Cak Kirun tertawa renyah, lalu mengambil sebuah kacamata hitam dari sakunya. Namun, kacamata yang lensanya telah ditempeli stiker bergambar tumpukan uang di bagian dalamnya.
"Coba Mas Dedi pakai kacamata saya ini," ujar Cak Kirun sambil menyodorkan kacamata itu.
Dedi memakainya sambil tertawa. "Lho, Cak! Ini mah gelap, saya nggak bisa lihat apa-apa kecuali gambar duit!"
"Nah! Persis!" seru Cak Kirun sambil menjentikkan jari. "Itulah profesimu sekarang, Mas. Kamu dibayar buat pakai kacamata duit itu. Saking fokusnya kamu lihat gambar duit di dalam kacamata, kamu sampai nggak bisa lihat kalau di dunia nyata, warga beneran lagi kesusahan gara-gara putusnya jembatan. Kamu sibuk ngetik 'Terima Kasih Pejabat', sampai lupa cara untuk merakyat."
Dedi terdiam sejenak, tapi jempolnya masih gatal ingin membalas komentar kritis seorang warga yang motornya terperosok lubang. "Tapi Cak, kalau saya nggak begini, siapa yang bakal promosiin keberhasilan desa?"
"Mas," kata Cak Kirun dengan nada yang lebih rendah. "Bedanya Penyuluh sama Buzzer itu tipis. Penyuluh itu bicara kenyataan supaya orang paham. Kalau Buzzer itu bicara kebohongan supaya kenyataannya tenggelam. Kamu ini bukan lagi promosi, tapi lagi jualan 'Bedak Gatal' buat orang yang lagi kena 'Penyakit Korengan'. Bukannya diobati, malah luka korengnya ditutupin bedak biar nggak nampak."
Cak Kirun menunjuk ke arah jendela warung internet yang memperlihatkan tumpukan sampah yang belum diangkut karena jembatan putus.
"Coba ketik di situ: 'Bau sampah ini adalah parfum aromaterapi alami untuk meningkatkan imunitas warga'. Kira-kira kalau hidungmu sendiri sudah mual, apa tulisanmu di HP itu bisa bikin udaranya jadi wangi segar?"
Dedi menunduk, menatap layar HP-nya.
"Mas Dedi," tutup Cak Kirun sambil mengambil surat undangannya yang baru selesai di-print. "Ingat! Sejarah itu ditulis oleh tinta kenyataan, bukan oleh jempol bayaran. Kamu bisa memenangkan perdebatan di kolom komentar, tapi kamu nggak akan pernah bisa memenangkan rasa hormat dari mereka yang jadi korban."
Cak Kirun melenggang pergi, meninggalkan Dedi di tengah kesunyian warung internet yang hanya diisi oleh suara detak jantung lima ponsel pintarnya. Di layar, akun "Rakyat Jelata_99" baru saja mendapatkan balasan dari warga asli: "Mas, kalau jembatannya bagus, kenapa saya sekarang lagi di Puskesmas?"—dan untuk pertama kalinya, sang Buzzer bingung harus mengetik apa.
Post a Comment