Cerpen Cak Kirun: Saudara Kembar Beda Nasib

Siang itu, udara di Balai Desa terasa lebih panas dari biasanya, bukan karena matahari, tapi karena urat leher Pak Karto yang tegang saat berteriak di depan televisi butut siaran berita penangkapan seorang menteri. 

"Maling! Bajingan berdasi! Rakyat lagi megap-megap cari sesuap nasi, dia malah foya-foya pakai duit pajak penuh gengsi!" Pak Karto memukul meja kayu sampai gelas kopinya meloncat kaget. Wajahnya merah padam, seolah-olah jika menteri itu ada di depannya, pasti akan dia kuliti hidup-hidup tanpa sisa. 

Cak Kirun yang duduk di pojok ruangan sambil menghisap rokok lintingannya, hanya mengamati tingkahnya. Di samping Pak Karto, tersandar sebuah karung beras bantuan sosial yang tadi pagi baru saja dibagikan. Masalahnya, Cak Kirun tahu persis kalau Pak Karto itu punya sawah dua hektar, tapi namanya tetap masuk daftar "keluarga miskin" hanya karena dia Sekdes. 

"Sabar, To. Jangan sampai tensimu naik, nanti harga sembako bisa kalah," celetuk Cak Kirun pelan. 

"Gimana nggak naik darah, Run! Kita ini dijajah bangsa sendiri. Korupsi di mana-mana!" balas Pak Karto masih dengan nada tinggi.

Cak Kirun bangkit berdiri, berjalan santai menuju tumpukan karung beras di sudut ruangan. Beliau mengambil segenggam beras dari karung milik Pak Karto yang sudah robek, lalu menunjukkannya ke arah cahaya matahari yang masuk lewat jendela. 

"To, kamu tahu nggak kenapa menteri itu bisa korupsi sampai triliunan?" tanya Cak Kirun sambil memutar-mutar butiran beras di telapak tangannya. 

"Ya karena dia serakah! Nggak punya iman!" 

"Mungkin," Cak Kirun manggut-manggut. "Tapi menurutku, dia itu cuma kamu versi 'sukses'-nya. Dia punya kursi dewan pemerintahan, jadi dia tilep triliunan. Kamu cuma punya kursi di Balai Desa, jadi kamu cuma bisa tilep jatah beras janda tua. Bedanya cuma di angka nolnya, To. Dia maling kakap, kamu maling teri. Tapi sama-sama 'ikan' hasil curian." 

Ruangan mendadak hening. Pak Karto tertegun, tangannya yang tadi mau mengambil gorengan gratisan milik Pak RT mendadak kaku bisu. 

Cak Kirun melanjutkan bicaranya sambil berjalan mendekati Pak Karto. Beliau menepuk bahu pria itu dengan akrab, "Pemerintah itu sebenarnya bayangan di dalam air, To. Kalau orang yang berdiri di pinggir kolam itu bungkuk, ya jangan protes kalau bayangannya di air juga meliuk-liuk. Rakyat seringkali mengutuk pejabat nepotis, tapi di saat yang sama mereka bangga kalau bisa lolos hukuman karena punya saudara dengan jabatan. Mereka memaki pencuri uang negara, tapi suka mengganjal timbangan dagangan supaya bisa lebih cuan, alasannya cuma sekadar 'strategi dagang'."

Pak Karto semakin diam mematung. 

"Kita ini aneh kan, To," bisik Cak Kirun. "Kita pengen pemimpin sekelas malaikat, tapi kita sendiri masih betah jadi setan-setan kecil yang hobinya ngumpat. Kita nuntut transparansi anggaran pusat, tapi pas ditanya istri soal sisa uang belanja, kita malah mendadak amnesia." 

Cak Kirun kemudian membuang sisa rokoknya ke asbak, lalu menunjuk ke arah cermin besar yang tergantung di selasar. Cermin itu kusam dan banyak debunya, persis seperti hati orang-orang yang hanya bisa melihat dosa dan mengabaikan kebaikannya. 

"Negara ini nggak bakal berubah cuma dengan ganti menteri setiap lima tahun, To. Selama rakyatnya masih bangga jadi penjahat kelas teri, ya pemimpinnya bakal tetap jadi penjahat kelas kakap. Karena pemimpin itu bukan turun dari langit pakai parasut, tapi tumbuh dari tanah yang sama dengan kita. Kalau tanahnya sudah beracun sejak dari akar, jangan harap pohonnya bakal berbuah manis dan segar." 

Cak Kirun melenggang pergi keluar, meninggalkan Pak Karto yang masih mematung menatap karung beras "miskin"-nya. 

Di luar, langit masih merona biru, tapi bagi orang-orang di dalam Balai Desa, mendadak segalanya terasa kelabu—sebuah kesadaran pahit bahwa menteri yang mereka benci itu ternyata saudara kembar mereka yang berbeda nasib.