Cerpen Cak Kirun: Wisata Keliling Museum Inovasi
Cak Kirun berdiri di depan sebuah gudang raksasa yang pintunya sudah penuh karat. Di atasnya terterdapat papan nama neon berkedip yang bertuliskan "Museum Inovasi". Cak Kirun yang sedang memegang peluit dan memakai topi pemandu wisata, berteriak, "Selamat datang, para pengunjung yang budiman! Hari ini saya akan menunjukkan koleksi paling mahal di negeri ini."
Cak Kirun dan rombongan menuju Ruang Labirin Kurikulum Tanpa Pintu. Cak Kirun kemudian menunjuk ke sebuah tumpukan kertas setinggi gunung. "Di sebelah kanan kalian, lihatlah fosil kurikulum. Ini adalah Kurikulum 'Merdeka Belajar', di bawahnya ada Kurikulum '2013', di bawahnya lagi ada Kurikulum 'Kompetensi'. Semuanya dipaksa pensiun dini, hingga belum sempat dipakai sampai khatam oleh guru di pelosok negeri"
"Kenapa, Cak?" tanya seorang pengunjung fiktif. "Karena kalau menteri atau pejabatnya nggak ganti nama kurikulum, nanti mereka nggak punya 'warisan', Le," jawab Cak Kirun sambil tertawa pahit. "Ibaratnya, anak-anak kita ini seperti kelinci percobaan yang disuruh lari pakai sepatu roda, pas baru bisa meluncur, sepatunya diganti jadi bakiak. Alasannya? Biar lebih 'berkarakter'. Hasilnya? Kakinya jadi lecet dan diam di tempat."
Setelah selesai, Cak Kirun menuju Ruang Koleksi Papan Nama. Cak Kirun membawa rombongan ke sebuah rak berisi ribuan papan nama instansi. "Lihat papan nama ini. Tahun lalu namanya 'Badan Percepatan Makan', enam bulan kemudian diganti jadi 'Lembaga Gizi Mandiri', sekarang diganti lagi jadi 'Kementerian Urusan Perut Nasional'. Isinya? Ya orang itu-itu saja, kursinya tidak berubah, tapi anggarannya habis miliaran cuma buat ganti kop surat, stempel, dan seragam."
Cak Kirun mengambil sebuah stempel yang masih basah. "Pejabat kita itu lebih rajin ke percetakan daripada ke lapangan. Mereka pikir dengan ganti nama, masalah otomatis hilang seketika. Padahal itu kayak ganti casing HP yang prosesornya udah lama. Luarnya terlihat indah, tapi lemotnya tidak kira-kira."
Menuju ke ruangan terakhir, yakni Ruang Monumen 'Mulai Lagi dari Nol'. Di tengah ruangan, ada sebuah pondasi gedung yang sudah ditumbuhi lumut dan semak belukar. "Dan, inilah puncak tur kita. Pondasi gedung yang dibangun pejabat lama. Pas pejabat baru naik, dia nggak mau lanjutin karena 'nggak sesuai visi-misi' dia, katanya. Dia robohkan pondasi ini, terus dia bangun pondasi baru di sebelahnya yang jaraknya cuma lima langkah."
Cak Kirun meniup peluitnya dengan kencang. "Negeri kita ini juara dunia dalam hal 'Memulai', tapi juru kunci dalam hal 'Menyelesaikan'. Kita hobi banget bongkar mesin mobil yang sudah ada cuma karena kita nggak suka sama mereknya. Akhirnya? Kita nggak pernah sampai ke tujuan karena mobilnya dibongkar-pasang terus di bengkel birokrasi."
Cak Kirun melepas topi pemandunya dan duduk di atas tumpukan berkas kurikulum yang sudah kadaluwarsa.
"Saran saya buat para 'Arsitek Aturan' di atas sana: Berhenti merasa paling pintar dengan menghapus jejak orang lama. Membangun bangsa itu kayak lari estafet, tongkatnya diterusin, bukan tongkatnya dibuang dan kalian balik lari ke garis start buat ambil tongkat baru."
Beliau menghela napas, menatap pintu keluar museum yang buntu. "Ingat, yang pusing itu bukan kalian yang punya pulpen buat tanda tangan aturan. Yang pusing itu guru yang harus belajar lagi, murid yang jadi bingung lagi, dan rakyat yang pajaknya habis buat biaya 'bongkar' yang nggak pernah jadi."
Post a Comment