Paranoia: Malam Pembalasan
Di kamar kontrakan sempit dengan banyak barang bekas yang sebagian besar mengisi ruangan itu. Lantai kamarnya sangat kotor, dipenuhi oleh bercak cairan yang sudah mengering. Bau busuk, yang lebih menyerupai bau bangkai menyengat indra penciuman siapa pun yang masuk dikamar itu.
Di tempat itu, Jacob tinggal dengan Goldie, anjing jenis Golden Retrivier yang beberapa minggu lalu ia pungut dari lokalisasi Dolly, sebab iba saat melihat kondisi anjing itu. Saat dipungut, tubuhnya dipenuhi oleh luka, yang beberapa sudah bernanah, bahkan kaki depannya patah sebelah, sehingga ia susah berjalan. Meski jika dilihat, orang-orang akan sama ibanya saat melihat Jacob itu sendiri. Pria miskin yang kesehariannya memunguti barang di tempat pembuangan sampah hanya demi menyambung hidupnya.
Jacob yang sedang sedang duduk di sebuah kasur tipis yang dipenuhi noda kecoklatan. Matanya menatap pada Goldie, yang ada di sudut ruang dengan kaki yang sudah diikat kuat di kaki lemari. Tidak lama, Jacob berjalan mendekati anjing itu. Ia lalu melepaskan seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat.
Jacob mengelus-elus Goldie yang sedang ada di depannya dengan tangan kanan, sedang tangan kiri ia gunakan untuk mengocok penisnya. Perlahan, penis Jacob menegang dengan keras. Tiba-tiba, Jacob mencengkeram kaki belakang anjing itu, lalu ia menarik kakinya hingga lubang anus anjing yang mungil itu tepat berada di depan penisnya. Jacob lalu meludahi anus Goldie, lalu perlahan menggesek-gesekkan ujung penisnya di anus yang sudah berlumuran ludah. Dengan satu hendakan pinggulnya yang keras, penis Jacob mulai masuk ke dalam lubang anus Goldie. Seketika, dinding anus anjing itu robek akibat dorongan paksa dari Jacob, dan darah segar perlahan merembes keluar dan membasahi pangkal pahanya.
Goldie mencoba melolong akibat rasa sakit yang ia rasakan, tapi hanya suara parau yang keluar akibat tenggorokannya yang hancur. Jacob terus menghujam anus anjing itu dengan penisnya berkali-kali. Ia sesekali meludahi Goldie yang terlihat kesakitan itu. Lolongan parauu suara anjing itu perlahan mulai melemah, saat Jacob mencekik lehernya. Gerakan pinggul yang membuat penisnya keluar-masuk dari anus Goldie semakin kencang. Jacob mengerang rendah, seketika spermanya keluar di dalam tubuh anjing itu.
Jacob menarik penisnya yang masih basah keluar dari lubang anus Goldie. Cairan kental berwarna putih bercampur darah merah kental menetes dari ujung kemaluannya yang mulai melemas. Ia menatap ke arah paha Goldie yang gemetar. Rasa lapar yang sangat liar tiba-tiba melilit perutnya. Jacob merangkak ke arah meja kayu kecil yang penuh dengan tumpukan sampah plastik. Ia mengambil sebilah pisau bedah yang masih memiliki sedikit sisa karat di pangkalnya.
Jacob kembali mendekati Goldie yang kesakitan, seperti sedang meregang nyawa. Ia lalu menancapkan ujung pisau yang tajam itu ke bagian perut anjing yang terasa hangat.
Srak! Srak! Srak!
Suara kulit yang robek terdengar jelas di telinga Jacob. Seketika, Goldie mengejang, napasnya perlahan mulai merendah. Beberapa detik setelahnya, Goldie meregang nyawa, bersamaan dengan hilangnya lolongannya.
Jacob lalu melanjutkan sayatannya. Ia terus menyayat kulit perut anjing itu berulang kali, hingga membuat sayatan yang berantakan itu menjadi lubang yang menganga. Jacob memasukkan jari-jarinya ke dalam lubang itu, lalu menarik paksa segumpal daging hati yang masih berdenyut lemah hingga terputus dari jaringan sarafnya.
Jacob menggigit daging hati itu. Ia lalu mengunyahnya dengan rakus, hingga darah yang terasa hangat memenuhi seluruh rongga mulutnya. Jacob menelan daging itu mentah-mentah. Berulang kali ia mengambil organ yang ada di dalam tubuh Goldie dan memakannya. Setelah Jacob merasa kenyang, disertai dengan rasa kantuk yang sudah menyerangnya. Ia lalu kembali merangkak ke arah kasurnya sambil mengusap darah yang ada di tubuhnya dengan baju yang ia ambil dari lemarinya.
Jacob lalu merebahkan tubuhnya yang telanjang di atas kasur sambil memejamkan mata. Tidak lama, ia tertidur dengan sangat lelap.
Jacob kemudian terbangun, saat ia merasakan hawa dingin yang menusuk hingga menembus ke tulangnya. Seketika, matanya terbelalak, seakan tidak bisa menutup lagi saat mendapati dirinya di atas meja logam yang sangat licin akibat genangan darah. Di sekelilingnya, kait-kait besi besar tergantung dari langit-langit, menahan potongan kaki, tangan, hingga kepala manusia yang sudah membiru. Bau manusia membusuk yang sangat menyengat itu mengisi seluruh ruangan itu.
Jacob mencoba meronta, tapi rantai di pergelangan tangannya terkunci sangat rapat. Goldie berjalan perlahan mendekati meja itu. Ia berjalan pincang dengan satu kaki depan yang tinggal tulang. Perut Goldie dengan lubang menganga itu terlihat tampak jelas, seperti saat terakhir Jacob meninggalkannya semalam. Goldie menjatuhkan sebatang besi pengait dengan gerigi tajam yang ujungnya ada sedikit karat.
Tiba-tiba, seekor kucing persia putih yang matanya hilang sebelah itu melompat ke atas perut Jacob. Ia mencakar-cakar kulit pria itu hingga menimbulkan luka cakaran yang darah segar perlahan muncul. Rasa sakit sekaligus nyeri yang sangat menyiksa itu membuat Jacob ingin berteriak dengan keras, tapi yang keluar hanya desis erangan parau akibat mulutnya sudah dijahit kasar dengan benang yang terbuat dari kengkraman kelabang. Tidak lama, kucing itu mengencingi luka cakaran itu. Seketika, desis erangan terdengar dengan sangat jelas, disertai dengan ekspresi kesakitan yang teramat sakit, hingga matanya meneteskan air mata.
Saat Goldie mengambil besi pengait itu dengan mulutnya, lalu berjalan ke arah Jacob, kucing itu langsung melompat dari tubuh Jacob, seolah paham jika tugasnya sudah selesai. Goldie berhenti tepat di selangkangan Jacob yang terbuka lebar itu. Ia langsung mengarahkan ujung besi pengait itu tepat ke arah lubang anus pria itu. Dengan satu dorongan yang sangat kuat, besi yang bergerigi itu pun masuk menusuk ke dalam lubang anus Jacob, yang seketika merobek paksa dinding anusnya. Darah segar perlahan menetes keluar, membasahi area selangkangannya.
Goldie berulang kali mengeluarkan dan memasukkan lagi besi pengait itu, membuat luka robekan anus Jacob semakin membesar. Bahkan gumpalan berwarna coklat kemerahan yang baunya sangat menyengat itu sampai terlihat. Setiap kali kait itu keluar masuk, Jacob hanya bisa mendesis, merasakan sakit yang teramat sakit.
Saat Goldie menarik rantai besi pengait itu, tubuh Jacob terangkat ke atas dengan posisi sungsang. Kepala Jacob kini menggantung ke arah lantai, sementara selangkangannya berada di posisi paling tinggi karena tertahan oleh pengait besi itu. Di dekat katrol, seekor tikus yang sebagian kepalanya sudah hancur bersiap dengan sebuah suntikan yang berisi obat perangsang. Tikus itu merangkak naik di atas rantai, lalu menjatuhkan diri ke pundak Jacob. Jarum suntik itu menusuk kulit leher pria itu dengan sangat dalam. Cairan obat itu pun langsung meresap masuk ke dalam pembuluh darahnya. Seketika, penis Jacob menegang dengan sangat keras, bahkan warna kulitnya berubah menjadi biru lebam.
Tikus itu merayap menuju lubang telinga kanan Jacob, lalu mencakar saluran telinga yang sangat sempit itu dengan kuku mungilnya. Suara cakaran, namun memekakkan yang disertai dengan rasa perih itu memberikan sensasi menyakitkan. Tikus itu dengan rakusnya menggerogoti gendang telinga Jacob dengan gigi pengeratnya secara perlahan. Suara kunyahan yang menjalar melalui jaringan sarafnya itu terdengar bergema di dalam kepalanya. Perlahan, darah segar menetes keluar, membasahi lantai di bawahnya.
Kucing persia putih kembali mendekati Jacob yang sedang tergantung, ia langsung melompat ke tubuh pria itu. Cakarnya yang tajam langsung menacap di tubuh Jacob, dan langsung merangkak naik, meninggalkan robekan kulit di sepanjang jalur panjatannya.
Setelah sampai di antara selangkangan Jacob, kucing itu perlahan menjilati ujung penis pria itu, membuat sensasi geli yang sangat menyiksanya. Tapi, tiba-tiba, kucing itu langsung menggigit penis Jacob. Seketika, desis erangan keluar dari mulutnya. Tidak berhenti sampai di situ, kucing itu mengoyak penis Jacob dengan giginya yang tajam secara liar, sesekali ia menyesap darah yang keluar di sela koyakannya. Kucing itu benar-benar mengoyak penis Jacob sampai tidak bersisa. Darah segar yang menetes keluar perlahan membasahi tubuh Jacob, disertai dengan rontokan sisa penisnya yang menempel pada tubuhnya.
Setelah semua penis Jacob terkoyak habis, kucing itu lalu menancapkan kuku kakinya yang tajam ke peler pria itu hingga menembus ke bijinya. Jacob mendesis hebat, tapi suaranya tertahan. Kucing itu lalu menarik kukunya, membuat peler beserta bijinya robek. Seketika, sperma bercampur darah menyembur keluar, membasahi wajah kucing itu.
Tidak sampai di situ, kucing itu lalu mencengkeram salah satu biji peler Jacob yang sudah terbuka tanpa kulit. Dengan satu tarikan rahang yang sangat beringas, jaringan saraf yang mengikat biji itu terputus seketika. Biji peler itu pun jatuh berdebum di atas lantai. Kucing itu pun kembali mengulangi aksinya pada biji peler yang lain, hingga selangkangan Jacob hanya menyisakan lubang luka yang menganga. Jacob tiada berhenti mendesis, meski suaranya masih tertahan oleh jahitan kelabang.
Goldie yang sedang berdiri tepat di depan wajah Jacob itu membuka mulutnya lebar-lebar, dan langsung mencengkeram rahang bawah Jacob dengan gigitannya yang sangat kuat. Seketika terdengar suara tulang yang patah. Anjing itu lalu mengoyak semua daging di wajah Jacob dengan rakus. Ia terus mengoyak tanpa henti, membuat pria itu hanya bisa mendesis kesakitan saat darah segar membanjiri wajahnya yang hancur sebelah.
Desis erangan Jacob yang sudah kehilangan banyak darah itu pun mulai melemah. Matanya yang sebelumnya melotot tanpa henti, kini mulai sayu. Pandangannya mulai memudar. Tepat saat Goldie mau mencengkram tangan Jacob, tiba-tiba ia terhentak kaget, dan langsung melihat sekelilingnya.
Jacob merasa kebingungan, ia tidak lagi terbelenggu dan ia sedang berada di kamar kontrakannya. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat saat pandangannya mengarah ke Goldie yang sudah tidak bernyawa lagi. Jacob lalu merangkak ke arah anjing itu. Saat ia memegang tubuh anjing itu, seketika air matanya keluar. Bayangan akan mimpi yang baru saja ia alami itu benar-benar membuatnya dadanya terasa sesak. Semua yang ia alami di dalam mimpi itu seperti pembalasan terhadap apa yang sering ia lakukan.
Namun, pikiran Jacob tiba-tiba kosong. Gerakan tangannya saat mengambil pisau yang ia gunakan untuk menyayat tubuh Goldie itu terlihat seperti orang buta yang ditutun. Dengan cepat, Jacob langsung menggorok lehernya dengan satu gerakan yang keras dan bertenaga. Seketika suara erangan kesakitan keluar dari mulutnya, disertai dengan darah segar yang mengucur deras. Tubuh Jacob langsung roboh dengan keras. Ia terus memandangi Goldie meski pandangannya mulai kabur perlahan. Jacob kembali merasakan hawa dingin seperti yang ada di tempat penjagalan itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, detak jantung Jacob benar-benar berhenti. Matanya tetap terbuka, menatap kosong ke arah anjing yang telah ia hancurkan hidupnya.
Post a Comment