Paranoia: Malam Pembalasan
Bau amis pasar pagi itu menusuk hidung. Kali ini baunya bukan berasal dari ikan-ikan mati, melainkan dari deretan kait besi yang menggantungkan potongan-potongan manusia yang masih meneteskan darah segar.
Di dunia ini, matahari terbit dengan warna kuning nanah. Arsitektur kota tidak lagi dibangun untuk kenyamanan manusia. Ya, di Pasar Induk "Manusia Segar" Seekor Ayam Jantan raksasa setinggi dua meter, mengenakan apron plastik yang berlumuran lemak, sedang mengasah parangnya. Di depannya, di atas meja talenan kayu yang becek, tergeletak pemuda yang sudah dikuliti setengah badan.
"Kepalanya mau dibelah, Nyonya Sapi?" tanya si Ayam dengan suara serak, berkokok pendek di sela kalimatnya.
Nyonya Sapi, yang berdiri tegak dengan gaun kulit sutra yang sempit, mengendus-endus kepala manusia itu. "Pastikan otaknya jangan hancur. Suami saya suka sekali oseng-oseng otak manusia muda. Katanya rasanya lebih nikmat."
Si Ayam menghantamkan parangnya. Krak. Batok kepala itu terbelah sempurna. Ia merogoh isinya dengan cakar yang kuning dan bersisik, meletakkan massa abu-abu kemerahan yang berdenyut itu ke dalam sterofom.
Di pinggiran kota, terdapat kompleks beton tanpa jendela. Di dalamnya, ribuan wanita manusia dijajarkan dalam mesin-mesin perah otomatis. Payudara mereka disambungkan ke selang-selang transparan yang terus menghisap tanpa henti.
Untuk menjaga produksi susu tetap tinggi, wanita-wanita ini terus-menerus disuntik hormon yang membuat kelenjar mereka membengkak hingga biru lebam. Mereka dipaksa melakukan perkawinan dengan para pria pilihan untuk tetap terus menghasilkan. Pria-pria itu pun juga diberikan berbagai vitamin supaya tidak ada rasa lelah untuk menghamili wanita-wanita itu.
Di ruangan itu juga dipenuhi suara isapan mesin slurrp-slurrp dan rintihan parau manusia yang pita suaranya telah dipotong agar tidak mengganggu ketenangan para peternak Sapi. Susu manusia ini akan dikemas dalam karton bergambar wajah manusia yang tersenyum palsu, lalu dijual sebagai "Susu Organik Kaya Nutrisi" di supermarket milik para Karnivora.
Di sudut jalan, seekor Kucing Hutan mengenakan jas formal sedang menikmati hidangan pembuka di sebuah restoran bintang lima. Di piring porselennya, tersaji sepasang kaki anak kecil yang digoreng tepung hingga keemasan, lengkap dengan saus merah yang dibuat dari sumsum tulang belakang.
Ia menyesap anggur yang terbuat dari fermentasi keringat manusia, lalu mulai menggerogoti jemari kaki itu dengan beringas. Bunyi tulang yang remuk krek-krek terdengar seperti musik indah di telinganya. "Manusia ini sepertinya kurang olahraga," gumam si Kucing, membersihkan sisa daging dari kuku kaki si bocah menggunakan lidahnya yang berduri. "Dagingnya terlalu banyak lemak, kurang kenyal."
Di tengah kegilaan ini, ada sebuah misteri Bawah Tanah yang menghantui para hewan. Konon, di bawah gorong-gorong kota yang berbau pesing itu, sisa-sisa manusia yang melarikan diri mulai mempraktikkan ritual terlarang. Mereka tidak lagi makan tumbuhan. Mereka mulai menangkap anak-anak kucing dan anak ayam yang tersesat, lalu memakannya mentah-mentah sebagai bentuk pemberontakan.
Seekor Anjing Penjaga yang sedang berpatroli mencium bau aneh dari lubang got. Saat ia mengintip, sebuah tangan manusia yang kurus dan penuh koreng melesat keluar, mencengkeram leher si Anjing, dan menariknya masuk ke dalam kegelapan yang dalam.
Hanya terdengar suara rengekan singkat, diikuti suara lidah yang mengecap dan tulang anjing yang dipatahkan dengan tangan kosong.
Di atas permukaan, dunia terus berputar. Mereka tidak menyadari bahwa di bawah kaki tempat berpijak, tatanan dunia sedang bersiap untuk membalaskan dendam.
***
Sirine di Rumah Potong No. 4 melengking, namun suaranya aneh—tercekik, seolah-olah kabelnya tersumbat gumpalan lemak. Di dalam bangunan beton itu, bau kematian tetap sama, namun arah alirannya mulai berubah. Revolusi pemberontakan dimulai dengan keheningan.
Seekor Ayam penjagal bercelemek kulit manusia sedang berdiri di depan ban berjalan. Di hadapannya, seorang pemuda atletis digantung terbalik pada kait besi, siap untuk dibelah bagian perutnya. Namun, saat si Ayam mengayunkan pisau tajamnya, mata si manusia terbuka. Mata itu tidak memancarkan ketakutan, melainkan kekosongan yang dingin.
Saat pisau menyentuh kulit, yang keluar bukan lagi darah segar, melainkan cairan asam berwarna hitam yang menyemprot wajah si Ayam. Bulu-bulu ayam rontok, kulit merahnya melepuh, mengeluarkan uap panas, dan matanya meleleh menjadi genangan kuning. Kait besi yang menusuk kaki si manusia tiba-tiba melunak, melilit pergelangan tangan si Ayamseperti ular, menariknya hingga tulang-tulangnya itu berderak patah.
"Sekarang," bisik si manusia dengan suara yang terdengar seperti gesekan logam, "giliran kami yang menimbang berat badanmu."
Di komplek untuk memerah susu manusia, mesin-mesin perah otomatis itu mendadak berputar balik. Alih-alih menghisap susu dari payudara para wanita, mesin itu mulai menyedot balik udara dan tekanan dari tangki penampungan pusat milik para Sapi.
Para wanita perah yang tadinya lemah tak berdaya, tiba-tiba berdiri serentak dengan tegak. Selang-selang yang tadinya menyiksa mereka kini mereka gunakan sebagai cambuk. Mereka masuk ke kantor administrasi tempat para Sapi sedang bersantai minum kopi.
Mereka menangkap Sapi-sapi itu, menjatuhkannya ke lantai, dan memasangkan mesin perah ke bagian tubuh yang paling sensitif. Namun, mesin itu tidak disetel untuk memerah susu, melainkan untuk memeras seluruh cairan tubuh hingga Sapi-sapi itu mengerut menjadi hewan dengan kulit dan tulang.
Di Restoran, seekor Kucing Hutan yang sedang menikmati jemari manusia mendadak tersedak. Ia merasakan sesuatu bergerak di dalam perutnya. Jemari anak kecil yang baru saja ia telan ternyata tidak mati. Jari-jemari itu tumbuh di dalam lambungnya, mencengkeram organ dalamnya dari dalam.
Perut si Kucing mulai membusung secara paksa hingga jahitan jas formalnya robek. Tiba-tiba, sebuah tangan kecil berlumuran darah menembus dinding perut si Kucing dari dalam, memegang garpu perak yang ada di meja, dan mulai menyuapkan potongan daging Manusia yang ada di piring ke dalam lubang perut yang baru terbentuk.
Malam itu, kota menjadi panggung jagal raksasa. Manusia-manusia "ternak" yang telah bermutasi mulai menggiring para hewan kembali ke kandang-kandang mereka sendiri.
Tidak ada yang tahu dari mana kekuatan ini berasal. Yang pasti, mitos dari ritual yang dilakukan manusia yang melarikan diri telah terbukti. Kini, di tengah alun-alun kota, dibangun sebuah monumen baru yang terbuat dari kepala-kepala hewan yang ditumpuk menjadi satu piramida besar. Di puncaknya, seorang manusia duduk sambil mengunyah paha ayam mentah-mentah sebagai simbol pembalasan berdarah.
Keesokan harinya, pasar pagi tetap buka. Namun kali ini, yang digantung di kait besi adalah kepala seekor Ayam Jantan, dengan mulut yang disumpal.
Post a Comment