Paranoia: Malam Pembalasan
Sisa hujan semalam menyisakan bau lembap yang bercampur dengan aroma busuk sampah organik dari luar jendela yang tak berdaun. Kamar kontrakan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa seperti peti mati yang sesak. Di setiap sudut, tumpukan botol plastik bekas, kardus yang mulai berjamur, dan kain-kain loak yang gagal dijual Jacob memenuhi ruang gerak. Lantai semen yang pecah-pecah tertutup lapisan debu tebal, berselingan dengan noda-noda cairan pekat bercak kecoklatan yang telah mengering dan lengket.
Jacob duduk di tepi kasur kapuknya yang sudah menipis. Kain pembungkus kasur itu dipenuhi peta noda kering berbau pesing. Pakaian yang melekat di tubuhnya—sebuah kaos kutang yang robek di bagian ketiak dan celana pendek kumal—terasa lengket oleh keringatnya sendiri. Matanya yang cekung dan merah menatap lurus ke sudut tergelap di dekat lemari tripleks yang hampir roboh.
Di sana, Goldie meringkuk.
Anjing Golden Retriever itu sama sekali tidak menyerupai rasnya yang anggun. Kulitnya yang dahulu mungkin berwarna keemasan, kini penuh dengan koreng, bekas sundutan rokok, dan luka terbuka yang mulai mengeluarkan nanah hijau kental. Kaki depan sebelah kanannya menekuk menyedihkan, patah akibat hantaman balok kayu saat Jacob menemukannya menggelundung di selokan gang sempit daerah Dolly beberapa minggu lalu. Saat itu, Jacob merasa ada kesamaan antara dirinya dan hewan malang ini: sama-sama disingkirkan, sama-sama membusuk hidup-hidup di dasar strata sosial.
"Heh... kemari," panggil Jacob. Suaranya serak, parau karena tenggorokannya jarang digunakaan untuk berbicara dengan manusia lain.
Goldie hanya mampu menggerakkan ekornya sekali, lemah, menyapu lantai kotor sebelum erangan kesakitan lolos dari moncongnya yang kering. "Nggkh... whhff..." Bunyi napas anjing itu terdengar berat, terengah-engah karena infeksi yang mulai menjalar ke dada.
Jacob berdiri. Lututnya berderit. Ia melangkah mendekati lemari. Alih-alih mengobati atau memberi makan, Jacob mengambil seutas tali nilon jemuran yang tebal. Tanpa memedulikan tatapan sayu dan pasrah dari mata Goldie yang mulai tertutup selaput putih, Jacob menarik paksa sepasang kaki belakang anjing itu.
"Jangan banyak bergerak, babi. Diam!" bentak Jacob kasar ketika Goldie mencoba menarik kakinya karena kesakitan pada luka bernanah di paha atasnya. "Auuuhhh... ggrrr..." lolong anjing itu, tertahan di balik tenggorokannya yang luka.
Dengan kasar, Jacob melilitkan tali nilon itu berkali-kali pada kaki belakang Goldie, lalu mengikat ujungnya dengan simpul mati ke tiang kayu lemari yang berat. Ikatan itu begitu kencang hingga memotong aliran darah, membuat kulit anjing itu membiru seketika. Goldie kini terkunci dalam posisi yang tidak wajar—tubuh bagian depannya menempel di lantai kotor, sementara bagian belakangnya terangkat dan terikat kuat menghadap ke arah kasur.
Jacob berdiri kembali, memandangi hasil kerjanya. Napasnya mulai memburu. Rasa lapar yang aneh, yang tidak hanya berasal dari perutnya melainkan dari bagian bawah selangkangannya, mulai bangkit seiring dengan bau anyir darah dan nanah yang menguap dari tubuh hewan di depannya.
Ia perlahan menyisipkan jari-jarinya ke karet celana pendeknya, menurunkan kain kumal itu bersama dengan celana dalamnya hingga merosot ke pergelangan kaki.
Kain kumal yang melekat di tubuh Jacob kini sepenuhnya teronggok di atas semen kotor. Dinginnya angin malam meraba kulit tubuhnya yang penuh dengan kurap serta daki tebal. Ketegangan aneh menjalar dari selangkangannya, memaksa darah mengalir deras menuju kemaluannya. Pria itu berlutut tepat di belakang tubuh Goldie. Tangan kanannya terulur, meraba bulu-bulu kasar di sekitar punggung anjing itu dengan usapan lambat. Sementara itu, tangan kirinya bergerak cepat melingkari batang penisnya sendiri, mengocoknya naik-turun dengan kasarnya hingga urat-urat kemaluannya menegang keras, memancarkan rona merah gelap yang kontras dengan kulit tubuhnya yang pucat kelaparan.
Goldie merasakan firasat buruk dari gerakan di belakangnya. Moncongnya yang kering terbuka, mengeluarkan suara parau, "Nghhh... whhfff... nggkrrt..." Kedua bola matanya yang keruh melirik ketakutan, sementara kaki depannya yang patah mencoba mencakar semen demi menjauhkan diri.
"Diam kau, asu! Jangan bergerak!" bentak Jacob, suaranya bergetar oleh gejolak berahi yang liar.
Tanpa peringatan, tangan kanan Jacob mencengkeram pangkal paha belakang Goldie. Dengan sentakan kasar, ia menarik paksa paha anjing itu ke atas, memaksa lubang anus hewan malang tersebut terbuka tepat menghadap ke arah ujung kemaluannya yang sudah basah oleh cairan pra-ejakulasi. Jacob memajukan wajahnya, mengumpulkan air liur di mulutnya, lalu meludahi lubang kecil itu berulang kali hingga cairan ludahnya berlumuran di sana.
Jacob memegang pangkal penisnya yang mengeras penuh. Ia mulai menggesek-gesekkan ujung kemaluannya pada lingkaran anus Goldie yang licin akibat air liur. Napasnya terengah-engah, memburu di dekat telinga hewan itu.
"Ggrrr... auuu... nggkkh..." Goldie meronta lemah, berusaha melepaskan ikatan tali nilon yang mengunci kakinya di tiang lemari.
"Rasakan ini, anjing jalang!" teriak Jacob.
Dengan satu dorongan pinggul yang dilesakkan penuh tenaga, Jacob menghantamkan penisnya masuk ke dalam lubang anus Goldie.
Creeesssh!
Dinding lubang anus yang mungil itu langsung robek paksa akibat tekanan keras yang melampaui batasnya. Darah segar berwarna merah pekat seketika merembes keluar dari sela-sela robekan, mengalir deras membasahi pangkal paha Goldie serta melumuri batang kemaluan Jacob yang masuk semakin dalam.
"AAAOOOUUUGGGHHH—khhhg!"
Goldie mencoba melolong sekuat tenaga membelah keheningan malam, tetapi jeritannya terputus menjadi ringisan parau yang tersedak di tenggorokannya yang hancur. Tubuh hewan itu gemetar hebat, menahan rasa sakit luar biasa yang menusuk hingga ke sarafnya.
Jacob sama sekali tidak memedulikan penderitaan peliharaannya. Ia justru semakin terangsang oleh kehangatan darah serta jepitan ketat dari lubang yang terluka itu. Pinggulnya mulai bergerak maju-mundur dengan ritme yang semakin cepat dan beringas. Setiap kali penisnya amblas ke dalam, suara gesekan basah berbaur darah terdengar jelas di dalam kamar sempit itu.
Slebbb... croott... slebbb...
"Ahhh... sialan, sempit sekali... bajingan!" Jacob mengerang keras, matanya terpejam menikmati jepitan dinding anus Goldie. Ia kembali meludahi punggung dan kepala anjing itu sebagai bentuk pelampiasan atas kepuasan gilanya.
Gerakan Jacob menjadi semakin tidak terkendali. Ketika lolongan parau Goldie kembali terdengar mengganggu telinganya, Jacob menjulurkan tangan kanannya ke depan, mencengkeram kuat-kuat leher anjing itu lalu mencekiknya dengan bertenaga. Napas Goldie seketika tersumbat. Lolongannya meredup menjadi desisan sekarat yang sangat lemah, "Khhh... ughhh... hhff..."
Paha Jacob bergetar kencang seiring dengan dorongan terakhirnya yang menghujam telak ke bagian terdalam anus Goldie. Pria itu mengerang rendah, menyuarakan kepuasan yang mendalam saat sperma kentalnya menyembur keluar dalam jumlah banyak, memenuhi rongga dalam tubuh anjing yang kini terkulai lemas di atas lantai kotor.
Jacob menarik penisnya keluar dari lubang anus Goldie dengan satu sentakan kasar. Batang kemaluannya yang mulai melembek terasa lengket, berlumuran cairan kental berwarna putih pekat berbaur darah merah tua yang hangat. Cairan campuran itu menetes perlahan dari ujung kepala penisnya, jatuh mengotori lantai semen serta paha bagian dalam miliknya.
Di hadapannya, Goldie terkapar miring. Sepasang paha belakang anjing itu gemetar hebat, kejang akibat syok akibat robekan hebat di saluran pembuangannya. Sisa-sisa napasnya memburu, mengeluarkan bunyi embusan yang basah dan tersedak dari sela-sela moncongnya yang berlendir.
"Ugh... bangsat," umpat Jacob.
Tiba-tiba, rasa lapar yang sangat liar melilit lambungnya. Perutnya berbunyi nyaring, meronta minta diisi dengan rasa sakit yang meremas dinding pencernaannya. Rasa lapar ini terasa berbeda, begitu pekat dan menuntut hingga membuat air liurnya menetes deras dari sudut bibir. Jacob menurunkan pandangannya, menatap daging paha Goldie yang terekspos serta area perutnya yang naik-turun dengan cepat.
Pria telanjang itu merangkak di atas lututnya yang berdaki. Ia bergerak menuju meja kayu kecil di dekat dinding. Di atas permukaan meja yang lapuk itu, berserakan tumpukan sisa makanan membusuk dan kantong plastik bekas rongsokan. Jacob menyapu sampah-sampah itu dengan kasarnya hingga terjatuh ke lantai. Jemarinya yang kotor mencengkeram sebilah pisau bedah bekas yang ia temukan di tempat pembuangan sampah medis beberapa hari lalu. Bilah bajanya masih tajam, walau ada sisa karat kecoklatan menempel erat di bagian pangkal dekat gagangnya.
Jacob kembali merangkak mendekati Goldie. Anjing itu melirik lemah dengan sepasang mata yang mulai kehilangan cahaya kehidupan.
"Kau berguna untukku, asu. Kau harus mengenyangkan perutku sekarang," bisik Jacob dengan tatapan kosong.
Tanpa ragu, Jacob menancapkan ujung pisau bedah yang runcing itu langsung ke bagian tengah perut Goldie. Kulit perut yang tipis dan terasa hangat itu langsung jebol.
Srak! Srak! Srak!
Suara kulit dan lapisan lemak yang robek terdengar begitu nyata di dalam kesunyian kamar. Goldie mengejang hebat seketika. Keempat kakinya menegang kaku ke udara. Mulutnya terbuka lebar, mencoba mengeluarkan lolongan terakhir, tetapi tenggorokannya hanya mampu memuntahkan busa putih bercampur darah. Napas anjing itu melambat dengan sangat cepat. Beberapa detik kemudian, seluruh otot tubuh Goldie mengendur, menyisakan sepasang mata yang menatap lurus tanpa berkedip. Anjing itu telah meregang nyawa.
Jacob mengabaikan kematian peliharannya. Ia menggerakkan pisau bedah itu ke atas dan ke bawah secara serampangan, menyayat kulit serta otot perut Goldie berulang-ulang hingga menciptakan lubang menganga yang berantakan. Darah hitam berbau anyir menyembur keluar, membasahi kedua tangan Jacob.
Pria itu meletakkan pisaunya, lalu memasukkan jemarinya ke dalam rongga perut yang masih mengepulkan uap hangat. Ia meraba-raba di antara organ dalam, memotong jaringan ikat dengan kuku-kukunya yang panjang penuh kotoran. Dengan satu tarikan paksa yang bertenaga, Jacob menarik segumpal daging hati berukuran besar. Organ berwarna merah kecoklatan itu terputus dari jaringan sarafnya, menyemburkan sisa darah ke wajah Jacob. Di telapak tangannya, daging hati itu masih memberikan sensasi berdenyut lemah yang aneh.
"Ahhh... segar sekali," desis Jacob, matanya berbinar gila.
Jacob langsung mendekatkan daging hati mentah itu ke mulutnya. Ia menggigitnya dengan rakus. Gigi-giginya yang kuning merobek serat-serat daging organ tersebut. Kunyahan pertamanya membuat darah hangat yang kental memenuhi seluruh rongga mulut, mengalir keluar dari sela-sela bibirnya hingga membasahi dagu serta dadanya yang telanjang.
Nyam... crott... nyamm...
"Ughh... hhh... enak..." Jacob mendesah puas di sela-sela kunyahannya. Ia menelan potongan daging mentah itu bulat-bulat tanpa dikunyah halus.
Rasa lapar gila yang menguasai dirinya membuat Jacob bertindak semakin beringas. Ia kembali merobek rongga perut Goldie, mengambil potongan organ lain, mengunyah limpa dan bagian usus yang penuh darah, lalu melahapnya dengan cepat. Mulutnya mengeluarkan suara kecapan basah yang menjijikkan di dalam kegelapan kamar.
Setelah lambungnya terasa penuh dan kembung oleh darah serta daging mentah, rasa kantuk yang teramat sangat berat mendadak menyerang kepalanya. Kesadarannya menurun drastis. Jacob merangkak menjauh dari bangkai Goldie yang kini kondisinya sudah kosong di bagian tengah tubuh. Ia meraih selembar baju loak dari lemari terbuka, menggunakannya secara asal untuk mengusap sisa-sisa darah yang melekat di lengan serta dadanya.
Dengan tubuh yang masih telanjang bulat dan berbau amis menyengat, Jacob merebahkan dirinya di atas kasur kapuk tipisnya. Ia memejamkan mata yang terasa berat. Dalam hitungan detik, Jacob telah tertidur dengan sangat lelap, tenggelam ke dalam kegelapan malam yang dingin.
Hawa sedingin es mendadak menusuk permukaan kulit, menembus lapisan pori-pori hingga mencengkeram tulang belulangnya. Jacob terhentak bangun. Kedua kelopak matanya langsung terbuka lebar, melebar paksa seolah otot-otot matanya terkunci rapat dan menolak untuk terpejam kembali.
Pemandangan di atas langit-langit runtuh, berganti menjadi hamparan ruang luas bercat kusam yang temaram. Jacob mendapati dirinya terlentang tanpa sehelai benang pun di atas permukaan meja logam yang panjang. Permukaan besi itu terasa sangat licin, dilapisi oleh genangan darah merah kehitaman yang lengket dan setengah membeku. Ketika Jacob mencoba menggerakkan kedua tangannya, terdengar bunyi gemerincing besi yang berat. Sepasang gelang rantai besi tebal mengikat erat kedua pergelangan tangan serta kakinya, menguncinya mati pada sudut-sudut meja logam tersebut.
Jacob memutar lehernya ke kanan dan ke kiri dengan panik. Bau busuk yang sangat menyengat langsung menerobos rongga hidungnya. Bau ini jauh lebih pekat daripada bau sampah kontrakannya. Ini bau pembusukan tubuh manusia. Di sekeliling ruangan, ratusan kait besi berukuran raksasa tergantung bebas pada rantai-rantai yang menjulur dari langit-langit semen yang tinggi. Kait-kait tajam itu menembus dan menahan potongan-potongan tubuh manusia. Ada sepasang kaki yang terpotong rapi, lengan-lengan dengan jemari yang kaku, hingga kepala manusia dengan wajah membiru serta mata melotot jenak, berayun perlahan menciptakan bayangan mengerikan di dinding.
"Mmffhh! Mmmgghh?!" Jacob berusaha berteriak, meminta pertolongan atau sekadar memuntahkan rasa takutnya.
Suara lengkingan yang ingin ia keluarkan tersumbat sepenuhnya. Mulutnya terasa kaku, berat, dan perih luar biasa. Ketika ia memaksakan bibirnya terbuka, seutas benang hitam tebal berbulu menahan kedua belah bibirnya dengan sangat rapat. Jahitan kasar itu meliuk-liuk menembus kulit atas dan bawah mulutnya, mengikat bibir Jacob menggunakan benang yang terbuat dari jalinan kaki-kaki kelabang yang kaku dan tajam. Setiap gerakan rahangnya justru membuat ujung kaki kelabang itu menusuk daging bibirnya bagian dalam.
Dari ujung kegelapan ruangan, terdengar langkah kaki yang tidak beraturan. Tuk... srek... tuk... srek...
Sesosok makhluk berbulu keemasan merangkak perlahan mendekati meja logam tempat Jacob terikat. Itu Goldie.
Anjing itu berjalan pincang, menyeret tubuh bagian depannya karena kaki kanannya kini tinggal menyisakan tulang putih yang mencuat tanpa daging. Kulit di sekujur tubuhnya terkelupas hebat, memperlihatkan jaringan otot yang memerah. Di bagian tengah tubuhnya, sebilah lubang besar menganga lebar, memperlihatkan rongga perut yang kosong melompong tanpa organ dalam, persis seperti kondisi terakhir saat Jacob mencabik-cabiknya semalam.
Goldie berhenti di tepi meja. Sepasang matanya yang keruh menatap tajam ke arah wajah Jacob yang mulai basah oleh keringat dingin. Dengan moncongnya yang berlumuran lendir hitam, Goldie menjatuhkan sebatang besi pengait besar ke atas permukaan meja logam, tepat di samping paha Jacob. Besi pengait itu dipenuhi gerigi-gerigi tajam di sepanjang batangnya, dengan sisa karat kemerahan yang mengerak di bagian ujung yang runcing.
Klek. Besi itu beradu dengan meja logam, memantulkan gema yang mengerikan di dalam ruangan penjagalan.
Sebelum Jacob sempat mencerna apa yang terjadi, embusan angin tipis bergerak di atas perutnya. Seekor kucing persia berbulu putih bersih melompat dengan ringisannya dari atas tumpukan daging gantung, mendarat tepat di atas hamparan perut buncit Jacob. Kucing itu tidak lagi memiliki sepasang mata yang utuh; mata kirinya hilang, menyisakan lubang hitam yang terus mengeluarkan cairan nanah kuning encer.
"Ngyaaahhh!" kucing itu mengeong dengan suara melengking tinggi, memamerkan taring-taringnya yang sekecil jarum.
Tanpa ampun, kucing persia itu mengeluarkan kuku-kuku cakarnya yang panjang dan tajam. Ia mulai mencakar-cakar permukaan kulit perut dan dada Jacob dengan gerakan mencabik yang sangat cepat. Kulit luar Jacob robek seketika. Garis-garis luka kemerahan merekah di atas perutnya, disusul oleh rembesan darah segar yang mengalir deras membasahi sisi lambungnya.
"Mmmgghhh! Nnggghhh!" Jacob mendesis hebat.
Rasa sakit yang teramat sangat menyiksa membakar saraf-saraf di dadanya. Air mata langsung menetes deras dari sudut matanya, membasahi pelipisnya karena ia sama sekali tidak bisa berteriak akibat jahitan kelabang di mulutnya.
Kucing itu menegakkan tubuhnya di atas dada Jacob. Sambil menatap mata pria itu, si kucing mengangkat ekornya lalu mengeluarkan cairan kencingnya tepat di atas luka-luka cakaran yang masih terbuka dan berdarah. Cairan urine yang hangat dan mengandung asam itu langsung meresap ke dalam daging Jacob yang terbuka. Rasa perih yang luar biasa dahsyat, seakan disiram oleh cairan cuka dan garam, membuat seluruh otot tubuh Jacob menegang kaku, gemetar hebat di atas meja besi yang dingin.
Kucing persia putih itu melompat turun dari dada Jacob setelah menyelesaikan tugasnya. Kakinya yang lembut mendarat tanpa suara di atas lantai semen yang licin, meninggalkan Jacob yang terus gemetar menahan sisa rasa perih akibat air kencing yang membakar luka-luka cakaran di perutnya.
Goldie maju selangkah. Pria terikat itu membelalakkan matanya saat moncong Goldie bergerak ke bawah, menjepit gagang besi pengait berkarat dengan rahangnya yang kuat. Suara geratilan gigi anjing itu beradu dengan besi terdengar mengerikan. Goldie berjalan pincang, menyeret kaki tulangnya ke arah selangkangan Jacob yang terbuka lebar akibat kedua kakinya dirantai terpisah ke ujung meja logam.
"Mmmphhh! Mmmgghhh!" Jacob meronta gila-gilaan.
Rantai di pergelangan kakinya berdenting keras saat ia mencoba merapatkan pahanya. Usahanya sia-sia. Logam tebal itu menahan persendian kakinya hingga tidak bergeser satu sentimeter pun.
Goldie mengangkat kepalanya, mengarahkan ujung besi pengait yang bergerigi tajam tepat di depan lubang anus Jacob. Air liur hitam menetes dari bibir Goldie, jatuh mengenai kulit selangkangan Jacob yang meremang ketakutan.
"Ggrrr... sssuuhhh..." Goldie mengeluarkan geraman rendah yang bergetar dari rongga dadanya yang bolong.
Dengan satu hentakan leher yang sangat kuat, Goldie mendorong besi bergerigi itu ke depan. Ujung besi yang runcing langsung menembus, menusuk masuk ke dalam lubang anus Jacob.
Jleb... Kraaakkk!
Dinding anus Jacob robek seketika. Gerigi-gerigi tajam di sepanjang batang besi itu mencabik-cabik saluran pembuangannya tanpa ampun dari arah dalam. Darah segar berwarna merah terang menyembur keluar, mengalir deras membasahi area selangkangan hingga menggenang di bawah pantatnya.
"MMMFGHHH! NNGGGHHH!"
Jacob mendesis sangat kencang. Matanya melotot hingga urat-urat darah di bola matanya pecah. Jahitan benang kelabang di bibirnya bergetar hebat, menahan teriakan histeris yang tertahan di tenggorokan. Rasa sakitnya begitu menghancurkan, seolah seluruh organ bagian bawahnya dihantam balok berduri.
Goldie tidak berhenti. Sambil terus menggigit gagang besi, anjing itu menarik kepalanya ke belakang lalu menghantamkannya kembali ke dalam. Gerakan keluar-masuk itu dilakukan berulang-ulang dengan bertenaga. Setiap kali besi itu ditarik, geriginya mengait dan merobek jaringan daging bagian dalam anus Jacob, membawanya keluar bersama aliran darah pekat.
Sreeettt... Jleb... Sreeettt...
Luka robekan di anus Jacob semakin melebar dan hancur. Dari lubang yang kini menganga lebar dan berlumuran darah itu, gumpalan otot serta jaringan berwarna coklat kemerahan mulai menyembul keluar. Bau kotoran yang bercampur dengan anyir darah segar menyebar luas, memenuhi udara di sekitar meja penjagalan.
"Nngghhh... mmmfff... hhnggg..." Jacob hanya bisa mengeluarkan desis erangan parau yang melemah. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin, merasakan sensasi robek yang terus-menerus menghancurkan bagian bawah tubuhnya tanpa ada cara untuk menghentikannya.
Goldie mendongak, menggigit rantai besi yang tersambung pada katrol di atas langit-langit, lalu menariknya dengan sentakan kuat. Mekanisme katrol berputar cepat. Rantai yang mengikat besi pengait di dalam anus Jacob menegang. Tubuh Jacob tersentak, lalu terangkat ke atas secara perlahan dari meja logam.
Posisi tubuh pria itu kini berubah menjadi sungsang. Kepala Jacob menggantung ke bawah, berjarak beberapa sentimeter dari lantai yang bersimbah darah. Sementara itu, pantat dan selangkangannya berada di posisi paling tinggi, menahan seluruh beban berat badannya yang bertumpu pada besi pengait yang menancap di dalam anusnya. Darah dari selangkangannya kini mengalir turun membasahi perut, dada, hingga membanjiri lehernya.
Tubuh Jacob berayun pelan menentang gravitasi. Darah dari lubang anusnya yang robek parah mengalir turun melewati perut, dada, hingga membasahi lehernya yang tegang. Posisi sungsang ini membuat seluruh darah berkumpul di kepala, menciptakan tekanan hebat yang membuat matanya terasa mau melompat keluar dari kelopaknya. Di atas, dekat katrol besi yang berderit, bayangan kecil bergerak di antara rantai.
Seekor tikus berukuran sebesar lengan manusia dewasa merangkak turun. Hewan itu mengerikan; sebagian kulit kepalanya hancur hingga memperlihatkan tengkorak putih yang retak dan berdarah. Di sela-sela cakar depannya, tikus itu memeluk sebuah jarum suntik kaca besar berujung logam panjang.
Tikus itu menjatuhkan diri, mendarat tepat di atas pundak Jacob yang tergantung tegak lurus ke bawah.
"Ciiittt... ciittt... mampus kau, manusia keparat!" cicit tikus itu dengan suara melengking tajam, memamerkan sepasang gigi pengeratnya yang kuning panjang.
Tanpa menunggu lama, tikus itu mengarahkan jarum suntik ke leher Jacob.
Jleb!
Jarum logam tebal itu menusuk masuk, menembus kulit leher Jacob yang tipis hingga ke bagian terdalam. Tikus itu menekan tuas suntikan menggunakan kaki belakangnya, mendorong cairan bening kental di dalamnya langsung ke pembuluh darah utama sang pria. Cairan obat perangsang dosis tinggi itu meresap instan, membakar sistem saraf Jacob dalam hitungan detik.
Efeknya langsung merusak tubuh Jacob. Aliran darah dipaksa mengalir ekstrem menuju area selangkangannya yang terluka. Penis Jacob yang sebelumnya lemas mendadak menegang dengan sangat keras secara paksa. Pembuluh darah di sepanjang batang kemaluannya melebar maksimal, berdenyut kencang hingga warna kulit penisnya berubah drastis menjadi biru lebam kehitaman, siap untuk pecah karena ereksi yang terlalu dipaksakan.
"MMMFGHHH! NNGGGHHH!"
Jacob mendesis sangat hebat, menggeleng-gelengkan kepalanya yang menggantung ke bawah. Rasa sakit dari anus yang terobek beradu dengan sensasi panas membakar dari penisnya yang ereksi lebam. Air matanya mengucur semakin deras, membasahi dahi dan rambutnya yang kotor.
Tikus itu merayap naik, berpindah dari pundak menuju bagian samping kepala Jacob. Ia berhenti tepat di depan lubang telinga kanan sang pria. Dengan cakar-cakarnya yang kecil namun setajam silet, tikus itu mulai mencakar saluran telinga Jacob yang sempit.
Srek... srek... srek...
"Ahhh... sssgghh... mmmph!" Jacob meronta, tetapi rantai di kakinya di atas katrol menahan tubuhnya tetap diam tegak lurus.
Suara cakaran di dalam liang telinga itu terdengar memekakkan, bergema hebat di dalam tempurung kepalanya, membawa sensasi perih yang menyiksa. Setelah merobek kulit luar saluran telinga, tikus berkepala hancur itu memajukan moncongnya. Ia mulai menggerogoti gendang telinga Jacob menggunakan gigi pengeratnya yang tajam secara perlahan dan konstan.
Kriukk... kraakk... nyam...
Suara kunyahan daging dan tulang rawan telinganya menjalar langsung melalui jaringan saraf, meledak di dalam otak Jacob dengan intensitas yang mengerikan. Gendang telinganya hancur dikunyah. Darah segar berwarna merah kental mengucur keluar dari lubang telinga kanannya, menetes satu demi satu, beradu dengan genangan darah di lantai semen di bawahnya.
Tikus berkepala hancur itu melompat menjauh setelah memuaskan diri mengunyah saluran telinga Jacob. Tetesan darah bercampur cairan pelumas katrol menetes dari langit-langit, tepat mengenai batang kemaluan Jacob yang berdenyut tegang. Ereksi paksa akibat suntikan obat perangsang membuat organ vitalnya membengkak hingga batas maksimal, memancarkan warna keunguan yang mengerikan di bawah siraman darah.
Dari kegelapan di bawah, kucing persia putih bermata satu melompat kembali ke tubuh Jacob. Binatang itu menancapkan kuku-kukunya yang runcing ke paha Jacob, menggunakannya sebagai pijakan untuk memanjat naik ke atas. Setiap langkah cakar kucing tersebut meninggalkan jalur robekan baru pada kulit paha Jacob, mengoyak serat-serat daging hingga darah segar mengucur deras mengalir ke bawah mengikuti gravitasi.
"Meooong... ssshh... giliranmu hancur, keparat!" dengus kucing persia itu, mengeluarkan suara parau yang penuh dengan kebencian.
Kucing tersebut merayap hingga berhenti tepat di antara selangkangan Jacob yang bergantung terbalik. Makhluk itu memiringkan kepalanya yang cacat, lalu menjulurkan lidahnya yang kasar penuh duri kecil. Ia mulai menjilati ujung kepala penis Jacob yang sedang menegang bengkak. Sensasi gesekan lidah berduri itu menghadirkan perpaduan rasa geli dan perih yang teramat sangat menyiksa, menggoncang pusat saraf berahi Jacob secara paksa.
"MMMFGHHH... NNGGGHHH!" Jacob mendesis hebat dari balik jahitan kelabang di mulutnya. Tubuhnya bergoyang di atas katrol, mencoba menjauhkan kemaluannya dari jilatan maut tersebut.
Seketika, kucing itu membuka rahangnya lebar-lebar. Tanpa ampun, sepasang taringnya yang tajam langsung mengatup, menggigit batang penis Jacob yang penuh dengan aliran darah panas.
Jleb!
"Ngyaaahhh!" raung kucing itu sambil menyentakkan kepalanya ke samping.
Daging penis Jacob robek seketika. Cairan pra-ejakulasi berbaur darah segar menyembur keluar dari saluran kencingnya yang pecah. Kucing persia itu bergerak semakin liar. Ia menggunakan gigi-giginya untuk mengoyak, menarik, dan mengunyah batang kemaluan pria itu secara beringas. Makhluk itu sesekali berhenti hanya untuk menyesap aliran darah pekat yang mengalir deras dari sela-sela koyakannya.
Jacob hanya bisa membelalakkan mata, menyaksikan kemaluannya dihancurkan perlahan hingga tidak menyisa sama sekali. Potongan-potongan kecil dari sisa penisnya yang hancur berjatuhan, menempel di atas perut dan dadanya sendiri bersama aliran darah yang terus mengucur tanpa henti.
Belum sempat Jacob menguasai rasa sakitnya, kucing putih itu kembali bergerak. Ia mengangkat cakar depannya, lalu menancapkan seluruh kuku tajamnya menembus kulit pembungkus buah zakar Jacob. Kuku-kuku itu menusuk dalam hingga menghantam sepasang biji peler di dalamnya.
"NNNGGGHHH—KKKHHH!" Desis erangan Jacob meninggi, bergema parau memenuhi ruang penjagalan.
Kucing tersebut menarik cakarnya dengan satu sentakan ke bawah yang sangat kuat. Kulit pembungkus buah zakar Jacob robek, terbelah menjadi dua bagian yang terkulai. Akibat tekanan ereksi paksa dan robekan tersebut, cairan sperma yang kental bercampur darah merah pekat langsung menyembur keluar dengan deras, membasahi seluruh wajah dan bulu putih kucing persia tersebut.
Kucing itu mendesis puas, menyeka darah di wajahnya dengan kaki depan, lalu beralih menatap salah satu biji peler Jacob yang kini menggantung bebas tanpa pelindung kulit. Makhluk itu memajukan moncongnya, mencengkeram biji peler tersebut dengan cengkeraman rahangnya yang kuat. Dengan satu tarikan kepala yang beringas dan bertenaga, jaringan urat saraf serta pembuluh darah yang mengikat biji peler itu terputus seketika.
Plop... Gebug!
Satu biji peler Jacob jatuh mencium lantai logam, menyisakan kekosongan di selangkangannya. Kucing itu tidak membuang waktu; ia kembali menancapkan giginya pada biji peler yang satunya lagi, menariknya dengan cara yang sama hingga terputus. Area selangkangan Jacob kini sepenuhnya hancur, hanya menyisakan sebuah lubang luka baru yang menganga lebar dengan darah yang terus memancar keluar mengotori seluruh tubuh sungsangnya.
Kucing persia putih bermata satu melompat mundur dari tubuh sungsang Jacob, membiarkan tetesan darah dari luka selangkangan sang pria mengalir bebas mengotori lantai semen. Fokus siksaan kini beralih sepenuhnya pada bagian terendah dari tubuh yang tergantung itu, yaitu kepala Jacob yang hanya berjarak jengkal dari permukaan lantai logam.
Goldie melangkah mendekat. Derap pincang dari kaki tulangnya terdengar berirama, beradu dengan genangan darah pekat. Anjing itu berhenti tepat di depan wajah Jacob yang merah padam akibat tekanan darah yang terbalik. Rongga perut Goldie yang menganga memperlihatkan kegelapan yang kosong, bergetar seiring desah napasnya yang parau.
"Gggrrrrrr... krrhh..."
Goldie membuka moncongnya lebar-lebar, memamerkan barisan gigi taringnya yang panjang dan dipenuhi sisa daging membusuk. Tanpa ragu, anjing itu memajukan kepalanya, lalu mencengkeram rahang bawah Jacob dengan gigitan yang sangat beringas.
KRAAAKKK!
Suara remukan tulang rahang bawah Jacob terdengar begitu jelas, berderak hancur di bawah tekanan rahang Goldie yang luar biasa kuat. Gigi-gigi taring Goldie menembus kulit pipi dan dagu, menghancurkan susunan gigi bawah Jacob hingga berantakan.
"MMMMFGHHH—NNNGGGHHH!"
Desis erangan Jacob meledak dari balik jahitan kelabang yang ikut koyak. Rasa sakit yang mematikan itu mencabik pusat kesadarannya. Air mata bercampur darah mengalir deras dari kelopak matanya yang dipaksa melotot.
Goldie mulai menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara liar, mengoyak semua daging di wajah Jacob dengan rakus. Kulit pipi, bibir yang terjahit kasar, serta sebagian hidung Jacob terkoyak lepas dari tengkoraknya. Anjing itu terus mengunyah dan merobek tanpa henti, memuntahkan kembali potongan daging wajah yang hancur ke lantai. Darah segar menyembur seperti pancuran, membanjiri wajah pria itu hingga bentuknya tidak lagi menyerupai manusia.
"Nnggghhh... hhhg... hhff..."
Desis erangan Jacob yang telah kehilangan terlalu banyak darah mulai melemah. Otot-otot tubuh sungsangnya mengendur pasrah. Pandangan matanya yang semula melotot tanpa henti, kini mulai sayu dan buram. Kesadarannya meredup, menyisakan kegelapan yang pekat.
Tepat saat Goldie membuka kembali moncongnya untuk mencengkeram tangan Jacob yang dirantai, tubuh pria itu mendadak terhentak kaget.
Hah!
Jacob membuka matanya dengan sentakan napas yang memburu. Sentakan itu begitu keras hingga dadanya naik-turun secara ekstrem. Ia melihat sekeliling dengan kepanikan yang luar biasa.
Ruangan jagal logam yang dingin lenyap. Rantai besi, katrol, tikus berkepala hancur, dan kucing persia bermata satu tidak ada di sekitarnya. Jacob mendapati dirinya sedang duduk di atas kasur tipisnya yang penuh noda kecoklatan di dalam kamar kontrakan sempit yang berbau busuk menyengat. Seluruh kulit tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin yang lengket. Kedua tangannya bebas, tidak lagi terbelenggu.
Namun, tubuh Jacob langsung bergetar hebat saat pandangannya mengarah ke sudut ruangan, tepat di samping kaki lemari tripleks.
Di sana, Goldie terbujur kaku, tidak lagi bernyawa. Perut anjing itu menganga lebar dengan organ dalam yang berserakan di atas semen kotor, persis seperti apa yang telah Jacob lakukan beberapa jam yang lalu sebelum ia tertidur.
Jacob merangkak turun dari kasurnya dengan tubuh gemetar. Lututnya membentur lantai yang dingin saat ia mendekati bangkai peliharaannya. Ketika telapak tangannya menyentuh bulu Goldie yang sudah mendingin dan kaku, air matanya langsung keluar deras, membasahi pipinya yang utuh.
Bayangan akan siksaan mengerikan di dalam mimpi yang baru saja ia alami terasa begitu nyata, melekat erat di dalam ingatannya. Dada Jacob terasa sangat sesak, seakan dihantam beban berton-ton. Siksaan sungsang, pengebirian, hingga penghancuran rahang yang dialaminya di dalam ruang jagal itu terasa seperti pembalasan instan yang mutlak terhadap kekejaman yang sering ia lakukan pada hewan malang tersebut. Kesedihan, ketakutan, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, menghancurkan sisa kewarasannya.
Mendadak, pikiran Jacob menjadi kosong. Tatapan matanya berubah kosong, kehilangan binar kehidupan. Gerakan tangannya saat terulur ke arah meja kayu kecil terasa sangat kaku, bergerak lambat seakan ada kekuatan tak kasatmata yang menuntun jari-jemarinya seperti orang buta.
Jemari Jacob yang kotor mencengkeram gagang pisau bedah bekas yang masih menyisakan darah kering milik Goldie di bagian bilahnya.
Tanpa keraguan sedikit pun, Jacob mengarahkan mata pisau yang tajam itu tepat ke lehernya sendiri. Dengan satu gerakan yang keras, cepat, dan penuh tenaga, ia menggorok lehernya dari kiri ke kanan.
Sreeett!
Kulit dan urat leher Jacob robek seketika. Suara erangan kesakitan yang teramat sangat keluar dari tenggorokannya yang bolong, "Uuuggghh... krrrkkkhhh..."
Darah segar berwarna merah pekat langsung mengucur deras seperti air bah, menyembur keluar membasahi lantai semen serta bangkai Goldie di hadapannya. Tubuh Jacob langsung roboh dengan keras, menimpa tumpukan rongsokan di lantai.
Dalam posisi sekarat, mata Jacob terus memandangi jasad Goldie yang kaku. Pandangannya perlahan mulai kabur dan menggelap seiring dengan berkurangnya pasokan darah di kepalanya. Di sisa kesadarannya yang terakhir, Jacob kembali merasakan hawa dingin yang menusuk tulang—hawa dingin yang persis sama seperti yang ia rasakan di tempat penjagalan misterius di dalam mimpinya—mulai menjalar perlahan dari ujung kaki menuju ke seluruh tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, kejang di tubuh Jacob berhenti. Detak jantungnya benar-benar terhenti sepenuhnya. Pria miskin itu tewas dalam kondisi mengenaskan di atas lantai kamarnya sendiri. Kedua matanya tetap terbuka lebar, menatap kosong tanpa sisa kehidupan ke arah anjing yang telah ia hancurkan hidupnya secara keji.
Post a Comment